Marıa Elısa Hospıta
03 Januari 2020•Update: 06 Januari 2020
Sibel Morrow
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendiskusikan situasi terkini di Libya via telepon.
Menurut Direktorat Komunikasi Turki, diskusi itu berlangsung beberapa jam setelah Parlemen Turki menyetujui mosi untuk mengirimkan pasukan ke negara di Afrika Utara itu.
"Turki akan terus memantau perkembangan aksi protes di Kedutaan Besar AS di Baghdad dengan saksama," ujar Erdogan.
Ribuan warga Irak menerobos masuk kompleks Kedubes AS untuk memprotes serangan udara yang menargetkan milisi Kataib Hizbullah di Irak dan Suriah, yang telah menewaskan 25 pejuang.
Serangan udara itu merupakan respons AS terhadap serangan roket pada Jumat lalu di pangkalan militernya di Kirkuk.
Kedua presiden juga membahas hubungan bilateral dan perang Suriah.
"Erdogan dan Trump menyoroti pentingnya diplomasi untuk menyelesaikan masalah-masalah regional. Keduanya juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama yang saling menguntungkan hubungan bilateral," tambah direktorat.
"Presiden Trump menekankan bahwa campur tangan asing telah memperkeruh situasi di Libya. Beliau dan Presiden Erdogan juga menyepakati pentingnya de-eskalasi di Idlib, Suriah, untuk melindungi warga sipil," kata juru bicara Gedung Putih Hogan Gidley.
Pada 27 November, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya dan Ankara menandatangani dua perjanjian terpisah, satu tentang kerja sama militer, dan yang lainnya tentang batas-batas maritim di Mediterania Timur.
*Servet Gunerigok di Washington turut berkontibusi dalam laporan ini