Chandni
21 Februari 2018•Update: 21 Februari 2018
Michael Hernandez dan Betul Yuruk
WASHINGTON
Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Selasa mengajukan ide pembentukan mekanisme internasional yang multilateral untuk menjadi perantara guna mencapai perdamaian Israel-Palestina.
Mekanisme itu akan lahir menyusul konferensi internasional yang akan diadakan pada pertengahan 2018, kata Abbas.
"Kami siap mulai mengadakan negosiasi secepatnya untuk mencapai kebebasan dan kemerdekaan bagi penduduk kami," kata dia di hadapan Dewan Keamanan PBB. "Kami siap menempuh perjalanan terpanjang."
Menyusul keputusan kontroversial Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Palestina menolak peran Washington sebagai penengah perdamaian antara kedua belah pihak, dan menawarkan rencana Abbas ini sebagai penggantinya.
Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley menepis proposal itu yang menurutnya "tidak akan membawa manfaat".
"Ahli negosiasi kami sudah siap di sini, siap berunding. Namun kami tidak akan mengejar-ngejar anda. Pilihannya di tangan anda, Bapak Presiden," kata Haley yang didampingi Jared Kushner, utusan khusus Trump untuk proses perdamaian Timur Tengah.
Langkah Trump itu sangat berseberangan dengan sikap dunia mengenai status Yerusalem. Kota itu dianggap sebagai isu final yang harus dirundingkan Israel dan Palestina. Palestina ingin membentuk ibu kota mereka di timur Yerusalem.
Pengumuman Trump itu memantik keceman dari seluruh dunia, termasuk Turki, Uni Eropa, dan PBB.
Di luar itu, Abbas menuduh Israel "bertindak seperti kebal hukum", dan memberi contoh tindakan Israel membangun pemukiman ilegal dan kehadiran jumlah besar pasukan militer Israel di Tepi Barat.
"Mereka yang dulu hanya sementara menduduki wilayah kami sekarang ingin membuatnya seperti penjajahan permanen," kata Abbas. "Mereka merampas semua wilayah yang mereka inginkan, termasuk Yerusalem. Bagaimana itu bisa dibiarkan terjadi?"
Sejak 1967, Israel memang mengkontrol seluruh kota Yerusalem.
Koordinator khusus PBB untuk Timur Tengah Nickolay Mladenov memperingatkan Dewan Keamanan PBB mengenai "musuh perdamaian yang makin menjadi-jadi".
"Mereka yakin panggung politik mendukung posisi mereka," terangnya. "Selain mereka, ada juga oknum yang ngotot menyembunyikan fakta-fakta penting dan menghalangi proses perdamaian dengan bertindak secara sepihak. Itu tidak akan membantu kami memecahkan konflik ini," jelas Mladenov.