Muhammad Abdullah Azzam
10 September 2020•Update: 10 September 2020
Hacer Başer
ANKARA
Perusahaan Minyak Nasional Libya (NOC) pada Selasa mengatakan kehadiran kapal perang sejak Sabtu lalu di pelabuhan minyak Ras Lanuf yang dikuasai Khalifa Haftar, menimbulkan risiko keamanan yang besar.
NOC mencontohkan adanya beberapa pelanggaran keamanan di Ras Lanuf, “yang paling akhir akhir pekan lalu yang melibatkan keluarnya peluru tajam” di daerah yang memiliki banyak instalasi minyak.
Pada Jumat lalu, NOC mengatakan bahwa Mohamed Bey, kapal yang terdaftar di Komoro, dijadwalkan memasuki pelabuhan Ras Lanuf untuk memuat barang sisa.
Perusahaan tersebut mengatakan kelompok bersenjata pro-Haftar Petroleum Facility Guard (PFG) – di antaranya terdapat tentara bayaran asing mengintimidasi awak kapal Mohamed Bey dengan menembakkan peluru tajam dan peluru RPG di daerah di mana bahan berbahaya dan sangat mudah terbakar disimpan.
"NOC menuntut penarikan segera semua personel militer dari fasilitasnya untuk melindungi keselamatan karyawannya dan integritas infrastrukturnya," kata juru bicara NOC seperti dikutip dalam pernyataan itu.
"Kami tidak dapat mentolerir nyawa karyawan kami yang terancam atau fasilitas kami dirusak atau dihancurkan oleh aktivitas militer ilegal," tambah pernyataan itu.
Pemerintah Libya yang diakui secara internasional telah diserang oleh pasukan Halifa Haftar sejak April 2019, dengan lebih dari 1.000 tewas dalam insiden kekerasan itu.
Produksi minyak hampir terhenti di negara itu setelah kelompok pro-Haftar menutup fasilitas minyak di bagian timur negara itu pada Januari lalu untuk memeras sumber daya pemerintah Libya yang diakui oleh PBB.
Pada 19 Agustus, Haftar mencabut blokade di pelabuhan dan fasilitas minyak.
Libya memiliki cadangan minyak mentah terbesar di Afrika dengan 48,4 miliar barel.
Pendapatan gas alam dan minyak mewakili sekitar 90 persen dari pendapatan pemerintah.
Negara tersebut mengekspor minyak terutama ke Italia, Prancis, Spanyol dan Jerman.
Namun, ekonomi Libya mengalami penurunan yang signifikan karena kerusuhan politik dan penurunan produksi di ladang minyak yang berada di bawah kendali pasukan Haftar.