Adham Kako, Levent Tok dan Mohamad Misto
28 Juni 2018•Update: 28 Juni 2018
Adham Kako, Levent Tok dan Mohamad Misto
DARAA, Suriah/ANKARA
Kelompok oposisi di Provinsi Daraa, di barat daya Suriah, bersumpah akan melawan serangan pasukan rezim Suriah, setelah rezim meluncurkan serangan militer kepada markas kubu oposisi.
Pada Senin, pasukan rezim dan sekutu-sekutu militernya melakukan serangan darat -- dengan dukungan pasukan udara Rusia -- setelah sebelumnya mencoba melakukan empat serangan ke Kota Busra al-Harir di timur laut Daraa.
Beberapa hari terakhir, rezim Suriah bersama dengan sekutu-sekutunya yang dibekingi oleh Iran mendesak perbatasan kota tersebut, di mana pasukan ini terus bentrok dengan kelompok bersenjata milik oposisi.
Menurut sumber-sumber pertahanan sipil lokal, setidaknya 29 orang tewas oleh serangan beruntun rezim di area ini.
Kelompok-kelompok oposisi menyerukan kepada komunitas internasional untuk memenuhi tanggung jawab mereka menahan kekerasan rezim di wilayah tersebut.
Sebagai bagian dari perjanjian Astana, Daraa adalah salah satu zona de-eskalasi yang ditetapkan pada Mei 2017 oleh negara-negara penjamin, yakni Turki, Iran dan Rusia.
Lalu pada Juli, AS dan Rusia menandatangani persetujuan untuk mendeklarasikan Daraa sebagai "zona de-eskalasi".
PBB memperkirakan setidaknya 45.000 orang telah terusir akibat kekerasan rezim dan perang ini telah memberi imbas kepada sekitar 750.000 orang di area tersebut.
Suriah terkunci oleh perang sipil berdarah sejak 2011 ketika rezim Bashar al-Assad melakukan kekerasan brutal kepada para demonstran pro-demokrasi. Sejak itu, sebut PBB, ratusan ribu orang tewas akibat konflik.