Rhany Chairunissa Rufinaldo
30 Oktober 2020•Update: 31 Oktober 2020
Jeyhun Aliyev, Merve Berker
ANKARA
Operasi tempur di sepanjang garis depan Azerbaijan terus berlanjut sebulan setelah bentrokan perbatasan meletus dengan Armenia.
"Selama siang dan malam terakhir, pasukan Armenia menembaki posisi unit tentara Azerbaijan dan pemukiman sipil dengan senjata termasuk artileri dan rudal," kata Kementerian Pertahanan Azerbaijan.
Sementara operasi terus berlanjut terutama ke arah depan Khojavend, Fuzuli dan Gubadli, upaya oleh Angkatan Bersenjata Armenia untuk menyerang terus dicegah dengan tegas.
Kementerian mengatakan sejumlah personel militer Armenia dilumpuhkan, sementara dua tank T-72, dua sistem roket peluncuran multi BM-21 Grad, 14 jenis howitzer, beberapa benteng dan enam kendaraan dihancurkan oleh pasukan Azerbaijan selama beberapa hari terakhir.
Sementara itu, pasukan Armenia menyerang wilayah Goranboy dan Tartar di Azerbaijan dengan tembakan artileri pada pagi hari.
Secara terpisah, kementerian juga membagikan rekaman video Desa Giyasli dan Sariyatag di wilayah Gubadli, yang baru-baru ini dibebaskan dari pendudukan Armenia.
Serangan rudal mematikan yang diluncurkan pasukan Armenia ke pemukiman sipil Azerbaijan di pusat Kota Barda pada Rabu menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk lima wanita, dan melukai 70 orang, termasuk delapan anak-anak dan 15 wanita.
Menurut Kantor Jaksa Agung Azerbaijan, dua rudal klaster Smerch, yang dilarang oleh hukum internasional, ditembakkan sekitar pukul 1 siang waktu setempat dan menargetkan daerah padat penduduk dengan tempat-tempat komersial di Barda.
Sejak bentrokan pecah pada 27 September, Armenia berulang kali menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan, bahkan melanggar tiga perjanjian gencatan senjata kemanusiaan sejak 10 Oktober.
Menurut Kepala Kantor Kejaksaan Azerbaijan, hingga saat ini, setidaknya 90 warga sipil tewas, termasuk 11 anak-anak dan bayi, dan 392 orang terluka dalam serangan pasukan Armenia, sementara 2.406 rumah dan 92 bangunan tempat tinggal hancur dan 423 fasilitas sipil rusak.
- Konflik Karabakh
Gencatan senjata yang kedua di Nagorno-Karabakh dimulai pada 27 September.
Hubungan antara kedua negara bekas Uni Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Upper Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan berada di bawah pendudukan ilegal Armenia selama hampir tiga dekade.
OSCE Minsk Group - diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat - dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai atas konflik tersebut, tetapi upaya itu tak kunjung berhasil.
Gencatan senjata kemudian disetujui pada 1994.
Sejumlah resolusi PBB serta organisasi internasional telah menuntuk penarikan pasukan pendudukan dari wilayah tersebut.