Dunia

Netanyahu akan lakukan kunjungan 'bersejarah' ke UEA, Bahrain

Kunjungan yang dijadwalkan sehari setelah berita pertemuan rahasia antara Netanyahu dan Putra Mahkota Saudi di kerajaan

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 25.11.2020
Netanyahu akan lakukan kunjungan 'bersejarah' ke UEA, Bahrain Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Mustafa Yalçın - Anadolu Agency )

Ankara

Zain Khalil

YERUSALEM

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan melakukan kunjungan bersejarah ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain awal pekan depan.

Menurut harian Israel Today, kunjungan itu akan menjadi kunjungan publik pertama Netanyahu ke Abu Dhabi dan Manama dan dia akan bertemu dengan Putra Mahkota UEA dari Abu Dhabi Mohammed bin Zayed dan Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, yang ditelepon oleh pemimpin Israel Selasa pagi.

"Pejabat kantor Netanyahu sedang membuat pengaturan akhir untuk kunjungan tersebut," menurut laporan itu.

Harian itu menambahkan bahwa kunjungan tersebut menyusul pembicaraan antara Ketua Komite Luar Negeri dan Pertahanan Knesset Zvi Hauser dan Ali Rashid Al Nuaimi, Ketua Pertahanan, Dalam Negeri dan Komite Urusan Luar Negeri di parlemen UEA.

Zvi Hauser optimis setelah pertemuan resmi pertama antara perwakilan dari dua anggota parlemen, menggambarkannya sebagai dialog yang historis dan bermanfaat.

Netanyahu mengatakan Selasa pagi bahwa dia akan segera mengunjungi Bahrain, sebagai tanggapan atas undangan resmi.

Pengumuman kunjungan itu disampaikan setelah media Israel mengatakan pada Senin bahwa Netanyahu melakukan perjalanan dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo ke Arab Saudi untuk bertemu Putra Mahkota Kerajaan Mohammed bin Salman.

Arab Saudi membantah laporan tersebut.

Pada September, UEA dan Bahrain menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel yang dimediasi AS di Washington.

Kedua negara Teluk itu mengabaikan penolakan rakyat Arab yang menganggap langkah itu sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.

Kepemimpinan Palestina bersikeras bahwa kesepakatan apa pun dengan Israel harus didasarkan pada Prakarsa Perdamaian Arab 2002 dengan prinsip "tanah untuk perdamaian" dan bukan "perdamaian untuk perdamaian" seperti yang diklaim Israel.

*Ibrahim Mukhtar berkontribusi pada berita ini dari Ankara

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın