Maria Elisa Hospita
06 April 2019•Update: 07 April 2019
Elena Teslova
MOSKOW
Di tengah upaya perebutan Tripoli dari pemerintah Libya yang didukung PBB, Moskow menyerukan agar pertumpahan darah di negara itu segera dihentikan.
Juru bicara kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, mendorong upaya perdamaian yang berkelanjutan.
Dia juga mengklarifikasi bahwa Rusia tak punya sangkut-paut dengan perpecahan politik di negara Afrika Utara itu.
"Kami memantau situasi di Libya dengan saksama. Kami tak ingin ada tindakan yang mengarah ke pertumpahan darah," tegas Peskov.
"Kami juga menganggap perlunya untuk melanjutkan semua upaya penyelesaian konflik dengan cara damai dan politis," kata dia lagi.
Lewat pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan diplomat Rusia dan Libya telah berdiskusi via telepon pada Kamis.
Dalam diskusi itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov menekankan perlunya "membangun dialog" antara semua pihak.
Pada Kamis, komandan militer Khalifa Haftar meluncurkan kampanye untuk menduduki Tripoli, di mana markas pemerintah persatuan Libya yang didukung PBB berada.
Libya telah dirundung gejolak sejak tahun 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan tewasnya Presiden Muammar Gaddaffi yang telah berkuasa selama empat dekade.
Sejak itu, perpecahan politik Libya telah menghasilkan dua kursi kekuasaan yang saling bersaing: satu di timur Kota Al-Bayda; dan satu lagi di Tripoli.