Elena Teslova dan Jeyhun Aliyev
24 Juni 2022•Update: 27 Juni 2022
MOSKOW/ANKARA
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Jumat mengatakan Uni Eropa dan NATO sedang mengumpulkan koalisi untuk berperang melawan Moskow.
Hal itu disampaikan Lavrov mengomentari pemberian status pencalonan Uni Eropa ke Ukraina dan Moldova.
Berbicara pada konferensi pers di Baku setelah pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Azerbaijan Jeyhun Bayramov, Lavrov mengatakan situasi tersebut mengingatkan situasi sebelum Perang Dunia II ketika Hitler menyatukan sebagian besar negara Eropa untuk berperang melawan Uni Soviet.
“Ketika Perang Dunia Kedua akan dimulai, Hitler mengumpulkan sebagian besar negara Eropa di bawah panji-panjinya. Sekarang Uni Eropa dan NATO juga mengumpulkan koalisi modern yang sama untuk berperang, dan pada umumnya, untuk berperang dengan Federasi Rusia. Kami akan mencermati semua ini dengan sangat hati-hati," katanya.
Lavrov kemudian mengumumkan pertemuan bilateral kedua tentang delimitasi perbatasan antara Armenia dan Azerbaijan, yang akan berlangsung di Moskow.
Kedua belah pihak mengkonfirmasi kesediaan mereka untuk menangani masalah ini, mengingat hal itu sangat signifikan untuk tahap penyelesaian saat ini.
"Pertemuan ini telah disepakati (berlangsung) di Moskow, dan kami saat ini memilih tanggal yang sesuai untuk kedua belah pihak," terang Lavrov.
Lavrov juga menegaskan kembali kesiapan Rusia untuk berkontribusi menandatangani perjanjian damai antara Baku dan Yerevan dan mendukung gagasan kerjasama dalam format 3+3 di Kaukasus Selatan, yang terdiri dari Armenia, Azerbaijan, dan Georgia dan tiga "tetangga" mereka -- Rusia, Turki, dan Iran.
Ditanya tentang pemberian status kandidat Uni Eropa ke Ukraina dan Moldova, Lavrov mengatakan bahwa, tidak seperti NATO, Uni Eropa bukanlah organisasi militer dan keanggotaan dalam struktur ini tidak menimbulkan ancaman bagi Rusia.
Tetapi Lavrov juga mencatat bahwa Moskow telah mengikuti langkah-langkah Uni Eropa dan meragukan bahwa "kebijakan Russofobia" blok itu akan segera menghilang.
Sementara itu, Bayramov mengatakan prioritas Baku adalah normalisasi dan perdamaian jangka panjang di kawasan, dan proses ini tidak dapat "disandera" oleh Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) Minsk Group di Karabakh.
Minsk Group, sebuah badan di bawah OSCE ditugaskan sekitar tiga dekade lalu untuk menyelesaikan sengketa Karabakh, tetapi gagal mencapai hasil dalam hampir tiga dekade, tegasnya.
OSCE Minsk Group, yang diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan AS, dibentuk pada 24 Maret 1992 untuk menemukan solusi damai atas konflik Karabakh, namun gagal.
Ketua bersama Grup Minsk, yang mengunjungi kedua negara secara berkala dan bertemu dengan pihak berwenang, tidak lebih dari mengeluarkan peringatan kepada kedua pihak untuk mematuhi gencatan senjata.