KHARTOUM, Sudan
Dua orang tewas dalam demonstrasi menentang kekuasaan militer di ibu kota Sudan, Khartoum, menurut Komite Pusat Dokter Sudan (CCSD) pada Rabu.
"Dua pengunjuk rasa ditembak mati oleh pasukan kudeta dalam menekan aksi unjuk rasa di daerah Bahri di Khartoum," kata komite itu dalam sebuah pernyataan.
"Pasukan kudeta menggunakan peluru tajam secara ekstensif di area terpisah di Khartoum yang menyebabkan puluhan luka dengan peluru tajam, beberapa di antaranya dalam keadaan kritis," tambah pernyataan itu.
Asosiasi Profesional Sudan menuduh tentara melakukan "penindasan berlebihan" terhadap pengunjuk rasa di Khartoum dan Omdurman, kota terpadat di Sudan.
"Pasukan kudeta melakukan kekerasan berlebihan dan mengepung demonstran di Bahri, Jalan Al-Siteen dan Umbadah," kata kelompok itu di Twitter.
"Tabung gas air mata digunakan dalam skala besar, sementara ada laporan tentang banyak korban luka," imbuh mereka.
Sekelompok LSM Sudan menyerukan masyarakat mengikuti unjuk rasa massal pada Rabu untuk menuntut pemerintahan sipil di tengah ketegangan pasca-kudeta militer bulan lalu.
Layanan internet telah terputus sejak pengambilalihan kekuasaan pada 25 Oktober.
Kepala dewan militer yang berkuasa di Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, mengumumkan keadaan darurat dan membubarkan Dewan Kedaulatan transisi dan pemerintah di tengah protes dan tuduhan yang saling bersaing antara militer dan politisi di negara itu.
Al-Burhan menegaskan bahwa tindakan itu bermaksud untuk melindungi negara dari "bahaya yang akan segera terjadi" dan menuduh mereka yang menolak langkahnya sebagai "mengaduk kekacauan."
Dia mengeluarkan dekrit minggu lalu untuk membentuk dewan transisi baru yang berkuasa, menunjuk dirinya sendiri sebagai ketuanya.