Ayhan Simsek
30 Mei 2018•Update: 31 Mei 2018
Ayhan Simsek
BERLIN
Kanselir Jerman Angela Merkel meminta maaf pada Selasa karena kegagalan otoritas negara dalam mencegah lusinan serangan rasis dan pembunuhan sejak awal tahun 90-an.
“Sangat menyakitkan mengetahui bahwa beberapa agensi kami juga membuat beberapa kesalahan dan kegagalan yang serius. Saya sendiri, dan sebagai pemerintah federal, kami hanya bisa meminta maaf untuk ini,” kata Merkel pada peringatan 25 tahun serangan rasis di Solingen yang menyebabkan pembunuhan lima anggota keluarga Turki.
Dalam kesempatan itu, Kanselir Jerman juga menyatakan kesedihan yang mendalam untuk korban kekerasan xenophobia dan ekstrim kanan, termasuk delapan imigran Turki yang dibunuh oleh kelompok NSU neo-Nazi antara tahun 2000 dan 2007.
“Tindakan kekerasan semacam itu memalukan. Mereka memalukan bagi negara kita. Kami tidak bisa dan kami tidak akan menerima ini," ujar dia.
Merkel berjanji akan melakukan upaya yang lebih kuat dalam memerangi xenophobia, rasisme dan diskriminasi.
"Sangat penting bagi badan keamanan Jerman untuk melakukan segala upaya untuk mencegah kejahatan sayap kanan jauh," katanya.
Kanselir Jerman hadir pada hari Selasa dalam acara peringatan resmi di sebelah utara kota Dusseldorf untuk memeringati korban serangan pembakaran Solingen.
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu termasuk di antara tamu yang datang.
Rumah keluarga imigran Turki di Solingen dibakar pada tahun 1993 oleh empat ekstrimis sayap kanan yang berusia antara 16 dan 23, di tengah meningkatnya kebencian terhadap orang asing di negara tersebut usai penggabungan Jerman Timur dan Barat pada tahun 1990.
Setidaknya 184 orang telah tewas di Jerman oleh kekerasan neo-Nazi sejak 1989, menurut organisasi hak asasi manusia Amadeu Antonio Foundation.
Badan-badan keamanan Jerman telah lama dikecam oleh partai-partai oposisi karena menoleransi ekstremis sayap kanan, dan gagal mencegah tindakan kekerasan dari kelompok sayap kanan.
Skandal seputar kelompok neo-Nazi National Socialist Underground (NSU) telah menyebabkan tuduhan "rasisme institusional" di Jerman.
NSU diduga menewaskan delapan imigran Turki, seorang warga negara Yunani, dan seorang polisi wanita Jerman antara tahun 2000 dan 2007, semuanya itu tidak menimbulkan kecurigaan dari polisi Jerman atau dinas intelijennya.
Masyarakat Jerman pertama kali mengetahui tentang keberadaan NSU pada 4 November 2011, ketika dua anggota kelompok dilaporkan tewas dalam aksi bunuh diri setelah perampokan bank yang gagal.
Hingga 2011, polisi dan dinas intelijen Jerman mengesampingkan motif di balik pembunuhan, dan sebaliknya memperlakukan keluarga imigran sebagai tersangka.
Pengungkapan baru-baru ini telah menunjukkan bahwa badan intelijen domestik Jerman BfV telah memiliki lusinan informan yang memiliki kontak dengan tersangka NSU sejak akhir tahun 90-an.
Namun para pejabat bersikeras bahwa mereka tidak memiliki informasi sebelumnya tentang sel teror NSU dan perannya dalam beberapa kasus pembunuhan.