Politik, Dunia

Menlu Tunisia dan Libya bahas krisis di Tripoli

Tunisia berusaha mencari solusi untuk krisis dan meminta dunia untuk menghentikan pertumpahan darah di Libya

Muhammad Abdullah Azzam   | 23.08.2019
Menlu Tunisia dan Libya bahas krisis di Tripoli Ilustrasi: Tempat berlindung migran yang menjadi sasaran pasukan Haftar terlihat di Tripoli, Libya pada 3 Juli 2019. Pemerintah yang diakui oleh PBB, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) menuduh pasukan pimpinan Khalifa Haftar membunuh migran yang berada di dalam tempat perlindungan di ibu kota Tripoli. Serangan udara yang menyerang penampungan Tajoura di Tripoli, Libya, dilaporkan mengakibatkan 44 migran dan pengungsi tewas. (Hazem Turkia - Anadolu Agency)

Tunisia

Yosra Ouanes, Ali Semerci

TUNISIA

Menteri Luar Negeri Tunisia Hamis Khamis Jhinaoui bertemu dengan Menteri Luar Negeri Libya Muhammad Tahir Seyyale guna membahas krisis yang sedang berlangsung di Tripoli.

Bersama dengan sejawatnya dari Libya Seyyale, Jhinaoui berbicara pada konferensi pers setelah melakukan pertemuan di Tunisia, bahwa negaranya siap berupaya melakukan apa pun untuk menghentikan konflik dan ketegangan di Libya.

Jhinaoui mengatakan negaranya tengah menjalin hubungan dengan negara-negara tetangga dan dirinya juga senang dengan upaya Perwakilan Khusus PBB di Libya, Ghassan Salame.

Menlu Tunisia menekankan bahwa negaranya akan terus berkomunikasi dengan pihak-pihak internasional untuk menghentikan pertumpahan darah di Libya.

Tunisia berusaha mencari solusi untuk krisis dan menarik perhatian seluruh dunia, terutama Dewan Keamanan PBB, tutur Jhinaoui.

Selain itu, Jhinaoui juga mengatakan bahwa memberi dukungan kepada satu pihak dan menentang pihak lain di Libya bukanlah kepentingan pihaknya.

Menteri Luar Negeri Libya Seyyale mengungkapkan perlunya berkonsultasi dengan Tunisia terkait perkembangan di negaranya.

Seyyale meminta Tunisia terus melanjutkan dukungannya kepada Libya. Dia juga menekankan pentingnya berkonsultasi dengan Tunisia sebelum menghadiri pertemuan internasional.

Libya masih dilanda krisis kekerasan sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan terbunuhnya Presiden Muammar Khaddafi setelah empat dekade berkuasa.

Sejak itu, perpecahan politik Libya menghasilkan dua kursi kekuasaan saingan - satu di Al-Bayda dan satu lagi di Tripoli - bersama dengan sejumlah kelompok milisi bersenjata berat.

Pada Senin, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB mengatakan sedikitnya 76 orang, termasuk 24 warga sipil, tewas sejak bentrokan pecah di Tripoli.

GNA menuduh pasukan pimpinan Haftar yang berbasis di Libya Timur berada dibalik serangan tersebut.

Pemimpin pasukan militer di timur Libya Komandan Khalifa Haftar menginstruksikan penyerangan pada 4 April untuk mengambil alih ibu kota Tripoli, sedang pasukan GNA meluncurkan operasi "Burkan al-Ghadab".

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın