Maria Elisa Hospita
05 Juli 2019•Update: 07 Juli 2019
Mohamed al-Bakay
NOUAKCHOTT
Otoritas Mauritania telah membuka kembali akses internet setelah memblokirnya selama 10 hari.
Pada 23 Juni, pihak berwenang di negara itu memblokir layanan internet karena aksi protes dan kerusuhan yang meletus setelah pengumuman hasil awal pemilihan presiden.
Hasil awal menunjukkan kandidat partai yang berkuasa memenangkan pemilu 22 Juni.
Kemudian, pada 28 Juni, internet sudah kembali bisa digunakan di sebagian wilayah negara itu, dan akhirnya bisa digunakan sepenuhnya pada Rabu malam.
"Ini adalah tindakan pencegahan karena alasan keamanan," kata otoritas Mauritania.
Pada Senin, Dewan Konstitusi Mauritania mengumumkan bahwa kandidat dari partai berkuasa menjadi pemenang pemilu.
Mantan menteri pertahanan Mohamed Ould Ghazouani memenangkan 52 persen suara.