Maria Elisa Hospita
23 Juli 2019•Update: 24 Juli 2019
Mustapha K. Darboe
BANJUL, Gambia
Dalam kesaksian resmi, seorang mantan anggota regu pembunuh yang beroperasi di bawah mantan presiden Gambia mengakui bahwa dirinya diutus untuk membunuh seorang jurnalis.
Malick Jatta memaparkan kesaksiannya di hadapan Komisi Kebenaran negara itu pada Senin, bersamaan dengan peringatan 25 tahun kudeta yang membawa Yahya Jammeh berkuasa.
Di bawah tekanan internasional, Jammeh digulingkan pada 2017.
Jatta adalah mantan anggota Pengawal Presiden elit Gambia sekaligus anggota regu pembunuh yang dikenal sebagai Tim Patroli.
Meskipun dia telah mengakui keterlibatannya dalam tiga eksekusi, namun tak ada bukti yang mengikat bahwa mantan presiden itu terlibat dalam pembunuhan jurnalis Deyda Hydara.
Jammeh - yang sekarang tinggal di pengasingan - membantah terlibat dalam pembunuhan Hydara.
"Hari ini adalah hari yang menyedihkan bagi jurnalis Gambia," kata Sheriff Bojang Jr, ketua Serikat Pers Gambia.
Hydara berada di dalam mobil bersama dua wanita pada saat dia ditembak.
Insiden itu terjadi bersamaan dengan peringatan 13 tahun berdirinya The Point, koran bergaya tabloid pertama di negara itu yang didirikan oleh Pap Saine, Deyda Hydara, dan Baboucarr Gaye.