Nani Afrida
28 Oktober 2018•Update: 29 Oktober 2018
Sibel Ugurlu dan Sorwar Alam
ANKARA
Rakyat Suriah harus menentukan masa depan mereka, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pada Sabtu.
Berbicara pada konferensi pers bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Angela Merkel menyusul KTT 4 negara di Istanbul, Macron menggarisbawahi pentingnya gencatan senjata permanen dan berkelanjutan di Idlib Suriah.
"Ini bukan urusan kami untuk memutuskan Suriah tetapi kami dapat membantu warga Suriah membuat keputusan tentang masa depan mereka," kata Macron, menekankan bahwa kondisi untuk Suriah untuk memilih dan menentukan masa depan mereka sendiri perlu dibentuk dalam kerangka konstitusional.
Macron mengatakan restrukturisasi Suriah yang inklusif "sangat penting."
Dia menambahkan bahwa tanpa "solusi politik" proses repatriasi "tidak bisa meyakinkan dan inklusif".
Macron menuduh rezim Suriah bertindak atas logika penaklukan dalam istilah militer dan mengatakan itu bukan pendekatan yang bermanfaat untuk menjamin stabilitas di Suriah.
Suriah terlibat konflik dahsyat pada 2011 ketika rezim Assad menindak keras para demonstran dengan keganasan yang tak terduga.
Macron mengatakan penggunaan senjata kimia baik di kawasan dan bagian lain dunia "tidak dapat diterima terlepas dari siapa yang menggunakannya."
Ratusan ribu warga sipil telah tewas dalam konflik terutama oleh serangan udara rezim yang menargetkan daerah-daerah yang dikuasai oposisi sementara jutaan lainnya mengungsi.
Selama konflik, rezim Assad dituduh berkali-kali oleh berbagai aktor internasional menargetkan warga sipil Suriah dengan senjata kimia.
Presiden Prancis itu juga menyerukan penyelidikan komprehensif atas pembunuhan jurnalis Arab Jamal Khashoggi dan mendesak sanksi
Khashoggi, kolumnis The Washington Post, telah hilang sejak memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Setelah beberapa hari menyangkal untuk mengetahui keberadaannya, Arab Saudi pekan lalu mengklaim Khashoggi meninggal saat terlibat perkelahian di dalam konsulat.
Namun jenazah Khashoggi belum ditemukan, dan Riyadh belum menjelaskan sementara narasinya terus berubah-ubah tentang apa yang terjadi.
Pada hari hilangnya Khashoggi, 15 warga Saudi lainnya, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi konsulat saat dia masih di dalam, menurut sumber-sumber polisi Turki. Semua individu yang diidentifikasi telah meninggalkan Turki.
Erdogan pada hari Selasa meletakkan temuan awal negaranya dalam penyelidikannya, mengatakan pembunuhan Khashoggi "direncanakan sebelumnya".