Maria Elisa Hospita
13 Juli 2018•Update: 13 Juli 2018
Mahmut Geldi
MARIB, Yaman
Amnesty International menyerukan penyelidikan atas dugaan penyiksaan, penghilangan paksa, dan perlakuan sewenang-wenang di fasilitas penahanan di Yaman yang dikelola oleh Uni Emirat Arab (UEA) dan kelompok milisi afiliasi.
"Keadilan masih belum ditegakkan setahun setelah jaringan penjara rahasia pertama kali dibuka di selatan Yaman," tulis pengawas HAM itu dalam sebuah laporan berjudul "Dia hidup atau tidak, hanya Tuhan yang tahu".
Laporan itu menyuarakan keprihatinan Amnesty International atas kehidupan anak-anak tahanan yang menjadi sasaran penyiksaan milisi yang didukung UAE.
Dari 51 tahanan yang dilaporkan diculik dan disiksa antara Maret 2016-Mei 2018, 19 orang masih belum ditemukan.
"Yaman dan UEA harus segera mengambil tindakan untuk mengakhiri pelanggaran ini, dan menyediakan informasi bagi keluarga yang tercerai-berai," tegas Direktur Tanggap Krisis Amnesty International Tirana Hassan.
Sebelumnya, para pejabat Yaman telah meminta UEA untuk menutup fasilitas penahanan ilegal dan menyerahkan tahanan kepada otoritas peradilan pemerintah Yaman.
Pekan lalu, Kantor Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa melaporkan adanya perlakuan buruk, penyiksaan, dan pelecehan seksual terhadap tahanan Yaman oleh tentara UEA.
UEA adalah anggota utama koalisi pimpinan Saudi yang telah melancarkan kampanye udara besar-besaran pada tahun 2015 ke pemberontak Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota, Sanaa.