Rhany Chairunissa Rufinaldo
22 Juli 2020•Update: 23 Juli 2020
Ali Semerci
TRIPOLI, Libya
Parlemen Libya mengecam keputusan parlemen Mesir untuk memberi wewenang kepada Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi untuk melakukan intervensi militer di Libya.
"Kami benar-benar menolak keputusan Parlemen Mesir berdasarkan undangan tidak sah oleh mereka yang mengaku mewakili suku-suku Libya dengan kedok parlemen," kata parlemen resmi Libya yang berbasis di Ibu Kota Tripoli, Selasa.
Pernyataan itu merujuk pada parlemen Tobruk yang berafiliasi dengan panglima pemberontak Khalifa Haftar.
Parlemen juga meminta pemerintah untuk siap secara politis dan praktis menanggapi ancaman ini, dan mempertimbangkan setiap opsi untuk memberikan respons yang benar.
Pada Senin, Parlemen Mesir menyetujui proposal yang akan melancarkan intervensi militer ke negara tetangga, Libya.
Dalam pemungutan suara rahasia yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Ali Abdel Aal, parlemen mengizinkan al-Sisi untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional negara itu, lansir harian lokal Al Gomhuria.
Keputusan itu diambil seminggu setelah parlemen Tobruk memberi Mesir lampu hijau untuk melakukan intervensi militer di Libya dengan dalih melindungi keamanan nasional kedua negara.
Bulan lalu, al-Sisi mengancam intervensi militer di Sirte dan Jufra, menyebut mereka sebagai garis merah.
Sejak April 2019, pasukan Haftar telah melancarkan serangan terhadap ibu kota Libya, Tripoli, dan bagian lain Libya barat laut, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 kematian, termasuk perempuan dan anak-anak.
Namun, pemerintah Libya baru-baru ini meraih kemenangan signifikan, mendorong pasukan Haftar keluar dari Tripoli dan Kota Tarhuna yang strategis.