15 September 2017•Update: 15 September 2017
Alex Jensen and Michael Hernandez
SEOUL
Korea Utara mengabaikan upaya dunia untuk mencegah ancaman nuklir mereka dengan meluncurkan rudal balistik melewati Jepang untuk kedua kalinya dalam sebulan terakhir pada Jumat dini hari.
Kepala Staf Korea Selatan mengatakan rudal itu dilepaskan dari area Pyongyang dan melampaui jarak lebih dari 3.700 kilometer melewati Jepang sebelum jatuh ke Laut Pasifik, menurut kantor berita Yonhap.
Proyektil itu dinilai adalah rudal balistik dengan jarak tempuh sedang, walaupun berhasil diluncurkan 1.000 kilometer lebih dari uji coba Korea Utara sebelumnya. Uji coba ini membawa ancaman lebih besar pada pasukan Amerika Serikat (AS) dan pangkalan militer AS di Guam.
Menteri Luar Negeri AS mengatakan resolusi Dewan Keamanan PBB adalah respon yang masih sangat minim dan dia menyerukan agar Tiongkok dan Rusia membantu mengambil tindakan terhadap Korea Utara.
"Tiongkok memasok minyak pada Korea Utara. Rusia mempekerjakan banyak buruh paksa Korea Utara," bunyi pernyataan Tillerson. "Tiongkok dan Rusia harus menunjukkan mereka tidak akan mentolerir uji coba sembrono seperti ini dan harus mengambil tindakan."
Respon dari Korea Selatan sangat cepat - militer mereka mengumumkan akan mengadakan uji coba rudal balistik sendiri setelah mengetahui aksi Pyongyang. Selain itu, Presiden Moon Jae-in mengepalai pertemuan Dewan Keamanan Nasional.
Dewan Keamanan PBB juga diperkirakan akan bertemu hari ini, setelah baru saja menerapkan sejumlah sanksi terhadap Korea Utara pada Senin atas uji coba nuklir keenam mereka pada 3 September lalu.
Pyongyang mengecam sanksi-sanksi itu dan mengancam akan menghancurkan AS dan Jepang.