Muhammad Abdullah Azzam
13 Agustus 2020•Update: 13 Agustus 2020
Alaa Mohamed Aboueleinin Aly, Muhammed Semiz
TRIPOLI
Perusahaan Minyak Nasional Libya (NOC) membagikan data di akun media sosialnya tentang kerugian yang dialami Libya akibat penutupan pelabuhan dan ladang minyak di negara tersebut.
Dalam pernyataan itu, tercatat kerugian selama 208 hari akibat penutupan pelabuhan dan ladang minyak Libya sebesar USD8.221 juta.
NOC pada 10 Juli mengumumkan pihaknya mulai memuat minyak ke sebuah kapal tanker di Pelabuhan Sidra serta kegiatan produksi dan ekspor kembali akan dimulai di berbagai fasilitas minyak di seluruh negeri.
Ahmed al-Mismari, juru bicara pasukan Khalifa Haftar juga mengumumkan dalam pesan video yang diterbitkan di akun media sosialnya pada 12 Juli bahwa mereka akan terus mengganggu produksi minyak sampai keinginan mereka dikabulkan.
Milisi Haftar hentikan produksi minyak
Milisi pro-Haftar menutup pelabuhan ekspor minyak di Brega, Ras Lanuf, Hariga, Zuveytine dan Sidra di wilayah Bulan Sabit Minyak pada 18 Januari, satu hari sebelum Konferensi Internasional Berlin di Jerman tentang krisis Libya
Dalam pernyataannya, NOC telah berulang kali meminta pihak Haftar yang bertanggung jawab atas penutupan ladang minyak di negara itu untuk tidak melakukan tawar-menawar di sektor ini.
Libya memiliki cadangan minyak mentah terbesar di Afrika dengan 48,4 miliar barel. Pendapatan gas alam dan minyak mewakili sekitar 90 persen dari pendapatan pemerintah.
Pemerintah Libya yang diakui secara internasional diserang oleh pasukan Haftar sejak April 2019, dengan lebih dari 1.000 tewas dalam insiden kekerasan. Sejak 2014, milisi Haftar menargetkan ladang minyak, yang mewakili paru-paru ekonomi Libya.
Libya mengekspor minyak terutama ke Italia, Prancis, Spanyol dan Jerman. Namun, ekonomi Libya telah mengalami penurunan yang signifikan karena krisis politik dan penurunan produksi di ladang minyak di bawah kendali pasukan Haftar.