Maria Elisa Hospita
06 November 2019•Update: 08 November 2019
Mohammad Walid
BAGHDAD
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Irak mengutuk pembunuhan dan penculikan demonstran di Irak.
"Kami menyesalkan pembunuhan dan penculikan demonstran karena ini merupakan ancaman terhadap kebebasan berekspresi," kata kedutaan dalam sebuah pernyataan.
"Rakyat Irak harus bebas untuk menentukan masa depan bangsa mereka sendiri," tambah pernyataan itu.
Kedutaan juga menyerukan agar politikus Irak terlibat langsung dalam menuntut reformasi bersama-sama dengan warga Irak. "Situasi tidak akan membaik jika kehendak rakyat Irak ditindas," tegas kedubes.
Setidaknya 260 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka dalam gelombang kedua protes di Irak sejak pekan lalu.
Sebelumnya, lebih dari 230 tewas selama aksi protes gelombang pertama.
Irak telah diguncang oleh gelombang protes sejak awal Oktober. Demonstran menentang maraknya praktik korupsi, tingginya angka pengangguran, dan minimnya layanan dasar.
Menurut Bank Dunia, tingkat pengangguran kaum muda Irak mencapai sekitar 25 persen. Selain itu, Irak juga merupakan negara paling korup ke-12 di dunia.
* Ahmed Asmar turut melaporkan dari Ankara