Astudestra Ajengrastrı
18 Juni 2018•Update: 19 Juni 2018
Santiago Serna Duque
BOGOTA, Kolombia
Ivan Duque, kandidat dari partai sayap kanan Democratic Center Party memenangi putaran kedua pemilu presiden Kolombia pada Minggu.
Duque kini resmi terpilih sebagai pemimpin negara tersebut untuk periode 2018-2022.
Dia memperoleh 53,95 persen suara (lebih dari 10,3 orang memberikan hak pilih), menurut data yang dirilis oleh Badan Pendaftaran Nasional Kolombia, dari total 99,45 persen suara yang sah.
Lawannya, Gustavo Petro yang beraliran kiri dari Colombia Humana Movement, mendapatkan 41,83 persen suara.
Duque menjadi presiden terpilih yang termuda dalam sejarah Kolombia.
Presiden terpilih ini dalam kampanyenya mengatakan salah satu cara mengembangkan ekonomi di negaranya adalah dengan mempromosikan sektor swasta, dan menyesuaikan pajak supaya usaha kecil bisa menjadi entitas legal.
Dia juga menjanjikan selama masa jabatannya, pengurangan pajak dan pajak pertambahan nilai akan dikurangi hingga 50 persen.
Tentang perjanjian perdamaian yang ditandatangani oleh pemerintahan Presiden Juan Manuel Santos dan pemberontak FARC pada November 2016, Duque berkata bahwa para pemimpin FARC seharusnya dipenjarakan dan dicabut keuntungan-keuntungan yang diberikan oleh Peradilan Khusus untuk Perdamaian.
Dalam debat kandidat calon presiden, Duque menekankan bahwa dia "tidak akan membiarkan Kolombia menjadi Venezuela kedua", negara yang kini menderita krisis sosioekonomi parah, yang menyulut hiperinflasi sebesar 2.616 persen dan memaksa lebih dari 2 juta masyarakatnya mengungsi.
Janji kampanye Kolombia akan berbeda dari Venezuela adalah salah satu poin kampanyenya yang paling kuat.
Mentor politiknya, mantan presiden Alvaro Uribe Valez, memenangi pemilu presiden pada 2002 dan 2006 di putaran pertama.
Hingga kini, satu-satunya posisi politik penting yang pernah diduduki Duque adalah senator, yang berhasil dijabatnya dalam pemilu 2014, dengan dukungan Uribe Valez.
*Ahmed Fawzi Mostefai berkontribusi untuk artikel ini