Rhany Chairunissa Rufinaldo
23 September 2019•Update: 23 September 2019
SM Najmus Sakib
DHAKA, Bangladesh
Inggris mengumumkan alokasi dana segar senilai GBP87 juta untuk mendukung pemerintah Bangladesh dan rencana respons bersama PBB untuk para pengungsi Rohingya di Cox's Bazar.
Komisi Tinggi Inggris di Dhaka pada Minggu mengatakan bahwa dana tambahan itu akan digunakan untuk menyelamatkan nyawa warga Rohingya dengan menyediakan makanan, air, tempat tinggal, pendidikan, pelatihan, dan konseling guna membantu membangun kembali kehidupan mereka.
Sementara itu, sebanyak GBP20 juta akan dialokasikan untuk mengurangi dampak ekonomi dan lingkungan terhadap masyarakat tuan rumah akibat kedatangan pengungsi Rohingya.
Sejak Agustus 2017, Inggris telah menyediakan dana bantuan senilai GBP226 juta untuk Rohingya.
Komisi Tinggi mengatakan Inggris bekerja sama dengan pemerintah dan para mitranya dalam komunitas internasional, donor bilateral lainnya, dan kerabat di PBB.
“Tujuan kami adalah menemukan solusi untuk krisis ini sehingga Rohingya dapat secara sukarela kembali ke Myanmar dengan aman dan bermartabat. Dan kami terus berkomitmen untuk memastikan bahwa kondisi diberlakukan di Negara Bagian Rakhine untuk memungkinkan pengembalian terjadi,” bunyi pernyataan itu.
Komisi itu mengatakan bahwa Inggris juga sangat menyadari dampaknya terhadap komunitas lokal di Cox's Bazar.
"Dan kami juga menyadari dampak ekonomi - dengan turunnya upah harian akibat kompetisi dan pindahnya para pekerja kesehatan dan pendidikan untuk bekerja di kamp-kamp," tambahnya.
Kelompok teraniaya
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.