Turki, Dunia

Ilmuwan Turki temukan molekul penghambat Covid-19

Studi menemukan bahwa campuran molekul bau dengan efek antivirus dapat mencegah penularan virus melalui udara

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 27.11.2020
Ilmuwan Turki temukan molekul penghambat Covid-19 Ilustrasi: Ilmuwan Turki saat melakukan uji coba molekul penghambat Covid-19 (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

Selma Kasap

ANKARA

Ilmuwan dari Universitas Teknik Timur Tengah (METU) di Turki telah menemukan bahwa campuran molekul bau yang menghasilkan efek anti-virus dapat mencegah penularan Covid-19 melalui udara.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Cagdas Devrim Son dari Departemen Biologi Molekuler dan Genetika, dan Huseyin Erdogmus, seorang insinyur kimia di METU, menunjukkan bahwa setelah dihirup, campuran tersebut mencapai paru-paru dan mengubah struktur protein Covid-19 yang menyebabkan penyakit.

Son dan Erdogmus telah mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal internasional agar ilmuwan lain dapat melakukan penelitian klinis.

“Kami bereksperimen dengan lebih dari 200 molekul dan memilih yang terbaik. Kami melakukan simulasi komputer dan menentukan mana yang efektif melawan virus korona. Tidak jelas apakah dosis yang dihirup akan menjadi bentuk pengobatan untuk penyakit atau apakah itu akan mencukupi. Diperlukan penelitian klinis untuk mencari tahu dan masyarakat bisa memanfaatkannya," kata Son.

Dia mencatat bahwa mereka menguji molekul yang mirip dengan yang sudah digunakan untuk mengobati Covid-19 dan bahkan beberapa di antaranya lebih efektif.

“Terbukti secara ilmiah bahwa molekul-molekul ini tidak membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu, kami yakin campuran molekul bau dapat digunakan untuk mensterilkan suatu tempat melalui ventilasi skala besar guna mencegah penyakit,” tambah Son.

Erdogmus mengatakan mereka memulai studi dengan meniru alam, karena semua tanaman memiliki resin alami dan minyak atsiri untuk melindungi diri dari virus dan bakteri.

Dia menekankan bahwa bahan baku molekul dalam campuran itu tidak mahal, mudah ditemukan dan melimpah.

“Begitu terhirup, molekul-molekul itu akan berpengaruh di tubuh selama dua jam. Secara teori, kita bisa mencegah penyakit dengan menghirupnya setiap dua jam sekali. Tapi untuk mengetahui hasilnya dalam praktek, kita butuh eksperimen klinis," pungkas Erdogmus.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.