Ekip
09 Januari 2018•Update: 09 Januari 2018
Ekip
SANAA
Ketua Dewan Tinggi Politik yang didirikan Houthi dan pendukung mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Salih Al-Samad, mengancam akan menghambat transportasi laut internasional di Laut Merah jika serangan militer di kota al-Hudaydah terus berlanjut, demikian dilaporkan pada Selasa.
Menurut kantor berita milik Houthi, SABA, Samad bertemu dengan Deputi Perwakilan Khusus PBB untuk Yaman Ma’ain Shuraim dalam kunjungannya ke Yaman.
Samad menyatakan akan menerapkan opsi-opsi strategis jika serangan yang dilancarkan koalisi Internasional yang dipimpin Arab Saudi dan pasukan pemerintah di Kota al-Hudaydah terus berlanjut.
"Jika solusi politik tetap buntu dan penyerangan di al-Hudaydah berlanjut, kami akan menerapkan opsi lain dan ini tidak akan bisa ditarik lagi. Menghalangi transportasi laut internasional di Laut Merah termasuk di antara opsi-opsi ini,” kata Samad.
“Mereka [Arab Saudi dan negara-negara Teluk] melewati perairan kami dengan kapal, sementara masyarakat kami kelaparan sampai mati. Jika mereka ingin duduk di meja perundingan, kami siap bernegosiasi, mereka akan melihat kami berbeda dari yang dulu” tambah dia.
Samad menekankan bahwa langkah yang diusulkan PBB sebelumnya serta langkah-langkah untuk membuat Houthi mundur dari al-Hudaydah hanya membuang-buang waktu. Ia menyatakan bahwa Houthi akan duduk di meja perundingan jika melihat keseriusan PBB dan negara yang melancarkan operasi perdamaian.
Dia juga mengkritik Perwakilan Khusus PBB untuk Yaman Ismail Ould Cheikh Ahmed yang memainkan peran negatif yang membuat Houthi kecewa dan tidak percaya pada PBB.
Samad menyampaikan, Deputi Perwakilan Khusus PBB untuk Yaman Ma’ain Shuraim meminta Pelabuhan Hudaydah untuk tetap dibuka karena pelabuhan tersebut merupakan wilayah penting untuk bantuan kemanusiaan.
Houthi sebelumnya telah menargetkan sejumlah kapal milik pasukan koalisi di Laut Merah.
Delegasi PBB yang dipimpin Ma’ain Shuraim tiba di Sanaa pada pekan lalu untuk memulai kembali proses perundingan damai di Yaman. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama Shuraim sejak menjabat pada September tahun lalu.
Yaman dilanda perang saudara sejak 2014, ketika kelompok pemberontak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah negara itu.
Pada 2015, Arab Saudi dan sekutunya melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk menggulingkan pertahanan Houthi.