Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
06 Januari 2020•Update: 07 Januari 2020
Mahmut Geldi
BEIRUT
Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah pada Minggu mengumumkan bahwa tentara Amerika Serikat akan membayar mahal atas pembunuhan Qasem Soleimani, kepala Pasukan Quds Iran, yang dianggap sebagai orang paling kuat kedua di negara itu.
Nasrallah mengatakan Presiden AS Donald Trump dan pemerintahannya akan menyadari bahwa mereka telah kehilangan kawasan itu ketika prajurit dan perwira Amerika dikirim pulang dengan peti mati .
"Tindakan paling adil yang diambil terhadap Amerika adalah menentang kehadiran militer AS di kawasan itu, termasuk pangkalan militer, kapal perang dan setiap perwira dan prajurit AS," ujar dia.
Namun, Nasrallah menggarisbawahi bahwa warga sipil AS di kawasan itu atau di tempat lain tidak bisa diganggu karena hal itu hanya akan melancarkan agenda Trump.
Dia mengatakan telah memperingatkan Soleimani tentang risiko pembunuhan dan telah bertemu dengannya di Beirut pada 1 Januari.
"Setelah sejumlah upaya pembunuhan, Soleimani terbunuh dalam serangan publik sehubungan dengan pemilihan umum AS dan perkembangan regional," kata Nasrallah.
Dia menekankan bahwa Trump ingin merebut sumur minyak di Irak dan tidak ingin ada negara yang menentangnya di kawasan.
"Pembunuhan Soleimani bukanlah peristiwa independen ... dan Amerika mengobarkan perang baru di kawasan," ungkap Sekjen Hizbullah itu..
Dia menyerukan diakhirinya kehadiran militer AS di sana setelah pembunuhan Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil kepala Hashd al-Shaabi Irak atau Pasukan Mobilisasi Populer (PMF).
"Menyusul pembunuhan Soleimani, Iran belum mengajukan permintaan kepada sekutu-sekutunyanya di wilayah itu," tambah Nasrallah.