LONDON
Negara-negara Eropa dan pers mereka menutup mata terhadap sekelompok ibu di tenggara Turki, yang melakukan aksi protes duduk terkait penculikan anak-anak mereka oleh organisasi teroris tersebut.
Meskipun terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Uni Eropa, PKK umumnya masih beroperasi secara bebas di Eropa.
Retorika kelompok teror itu disebut sebagai "pandangan etnis Kurdi" oleh media Jerman, Prancis, Belanda, dan Swedia.
Korban kampanye teror berdarah PKK, yang anaknya diculik oleh organisasi teroris itu, jarang disebut-sebut oleh media Eropa.
Para pejabat Uni Eropa pun memiliki kecenderungan terharap sikap pers Eropa ini.
Pada 2016, Johannes Hahn, komisaris Uni Eropa untuk Kebijakan Neigborhood Eropa dan Negosiasi Pembesaran, bertemu dengan perwakilan Eropa dari Partai Rakyat Demokrat (HDP) Eyup Doru, yang menjadi buronan Turki karena terlibat dalam kegiatan teroris.
Pemerintah Turki menuduh HDP mempunyai hubungan erat dengan kelompok teroris YPG/PKK.
Perwakilan PKK di Eropa juga berpartisipasi dalam konferensi yang diadakan setiap tahun di Parlemen Eropa.
Pejabat Uni Eropa di Turki secara teratur menghadiri persidangan anggota PKK di pengadilan, mengabaikan para ibu di Diyarbakir yang telah melakukan protes selama 408 hari.
Satu-satunya diplomat Eropa, yang mengunjungi para ibu yang melakukan protes, adalah Duta Besar Inggris untuk Turki Dominick John Chilcott.
Dukungan Prancis terhadap YPG/PKK
Prancis merupakan salah satu negara paling pro terhadap YPG/PKK di Eropa karena kelompok teror tersebut berhasil mengumpulkan dukungan dari beberapa presiden Prancis mulai dari Francois Mitterand hingga Emmanuel Macron.
Macron meningkatkan dukungannya kepada YPG/PKK dengan mengundang anggota SDF, label yang digunakan oleh grup tersebut, pada 2019 lalu.
Setelah penjamuan di Istana Elysee, sebuah pernyataan resmi mengumumkan bahwa Macron meyakinkan kelompok itu akan terus mendapatkan dukungan Prancis.
Penasihat militer Prancis juga melatih para teroris YPG/PKK di kamp Ain Issa di Suriah utara. Prancis juga mengizinkan anggota PKK untuk mengadakan demonstrasi di negara itu, terutama di ibu kota Paris dan di depan gedung Dewan Eropa di Strasbourg.
Namun, pejabat Prancis tidak mengomentari protes yang sedang berlangsung di Diyarbakir.
Bias media Prancis
Pers Prancis juga demikian. Biasanya menampilkan teroris YPG/PKK sebagai pahlawan, harian Prancis sebagian besar tidak menyinggung aksi protes di Diyarbakir.
Satu-satunya pengecualian adalah sebuah artikel yang diterbitkan oleh harian Liberation pada 6 Januari yang memuat pernyataan dari seorang ibu yang memprotes.
Media Jerman
Seperti di Prancis, pers Jerman juga menyuarakan retorika YPG/PKK dan memproyeksikan teroris sebagai “pejuang kemerdekaan” meski secara resmi diakui sebagai kelompok teroris di Jerman.
Maide T., seorang warga Berlin, yang putrinya direkrut secara paksa oleh kelompok teroris tersebut, mengatakan tidak ada langkah konkret yang diambil oleh otoritas Jerman, meski dia sudah berkali-kali meminta bantuan.
Dia melakukan aksi protes di Jerman selama 11 bulan di depan kantor Kanselir Jerman dan parlemen, namun tidak ada media Jerman yang mewawancarainya.
Maide T. mengkritik media dan mengeluhkan bahwa dia tidak mendapatkan dukungan dari pers Jerman.
"Anak saya direbut oleh YPG/PKK dan bukan oleh orang lain. Bahkan jika media Jerman atau Eropa menolak kenyataan itu, saya akan melanjutkan perjuangan saya melawan kelompok teror tersebut," sebut Maide.
Pers Jerman juga mengabaikan aksi protes di Diyarbakir.
Dalam sebuah berita, harian Der Tagesspiegel menekankan bahwa para ibu yang melakukan protes didorong oleh negara Turki dan menunjukkan bahwa pejabat Turki, termasuk menteri dalam negeri, telah mengunjungi para ibu tersebut.
Kemunafikan Eropa
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu juga mengangkat sikap munafik Eropa ini pada konferensi pers dengan sejawatnya dari Swedia Ann Linde pada Selasa kemarin.
“Anda juga seorang ibu. Saya dengan hormat meminta Anda untuk mengunjungi dan berbicara dengan ibu-ibu yang melakukan protes di Diyarbakir yang menunggu anak mereka lebih dari setahun. Mereka juga perempuan Kurdi. Kenapa Anda selalu mendukung PKK/YPG/SDF? Dosa apa yang telah dilakukan orang Kurdi lainnya?" tanya Cavusoglu.
Protes yang dimulai pada 3 September tahun lalu di Diyarbakir, ketika Fevziye Cetinkaya, Remziye Akkoyun, dan Aysegul Bicer mengatakan bahwa anak-anak mereka telah direkrut secara paksa oleh teroris YPG/PKK.
Protes duduk telah berkembang setiap hari. Keluarga yang berduka telah berjanji untuk melanjutkan protes sampai setiap keluarga bertemu kembali dengan anak-anak mereka.
Sementara 19 keluarga telah bertemu dengan anak-anak mereka sejauh ini, 152 keluarga masih melanjutkan aksi protes duduk.
news_share_descriptionsubscription_contact
