Umar İdris
19 Juni 2019•Update: 20 Juni 2019
Cigdem Alyanak dan Zehra Nur Duz
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiri shalat janazah in absentia di Turki atas meninggalnya presiden terguling Mesir Mohammad Morsi.
Pada kesempatan itu Erdogan mengungkapkan kecurigaannya atas meninggalnya Morsi.
"Apakah ini kematian normal atau ada unsur lain yang terlibat, kematian ini mencurigakan. Secara pribadi, saya tidak percaya ini kematian yang normal," kata Erdogan, saat berbicara sesudah shalat gaib di Masjid Fatih Istanbul.
Morsi, presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis, meninggal dunia pada Senin saat hadir dalam persidangan atas kasusnya sendiri.
Shalat gaib di Ibukota Turki
Pada Selasa, shalat gaib untuk Morsi diadakan di sejumlah masjid di Turki, termasuk masjid di dekat kedutaan Mesir di Ibukota Ankara.
Pegiat masyarakat sipil, warga, dan muslim dari Mesir, Ethiopia, Somalia, Palestina, Syria, dan daerah otonom Xinjiang Uighur di China, menghadiri shalat gaib yang diorganisir oleh beberapa organisasi masyarakat sipil untuk memberikan penghormatan kepada mendiang mantan Presiden Mesir Morsi.
Para peserta membawa simbol-simbol Rabia, jari empat yang berarti menolak kudeta. Juga membawa foto Presiden Morsi dan plakat yang mencela pemerintah Mesir.
Salah satu plakat mengusung kata-kata "Kudeta akan kalah, gerakan Islam akan menang".
Placards bore the slogans, "Coups will be defeated, Islamic movement will win", "Pembaca Islam akan abadi" dan "Kencangkan suara Anda untuk kemanusiaan".
"Hari ini kita memenangkan seorang martir di hadapan Tuhan," kata seorang mahasiswa Mesir Mumin Esraf, kepada reporter atas nama sejumlah organisasi setelah shalat gaib.
"Tiran telah menguburnya secara diam-diam pada pagi hari, namun dia tetap menang," kata Esref.
Ratapan mereka yang menjadi martir dan diperbudak di ruang bawah tanah Mesir akan menjadi tentara dan sekali lagi akan menggulingkan otoritas kudeta di Mesir," tambahnya.
Organisasi serikat pekerja dan masyarakat sipil juga hadir dalam acara ini.
Morsi, anggota Muslim Brotherhood Mesir, memenangkan pemilu presiden Mesir pada 2012.
Setelah satu tahun memerintah, Morsi dikudeta dan dipenjara dalam kudeta berdarah yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan yang sekarang telah menjadi Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.
Pada saat meninggal dunia, Morsi menghadapi sejumlah tuduhan hukum, yang disebut oleh sejumlah organisasi hak asasi manusia dan pengamat independen, bermotif politik.