Muhammad Enes Çallı
21 Juni 2023•Update: 10 Juli 2023
ISTANBUL
Turkiye menentang ujaran kebencian, neo-Nazisme, dan Islamofobia, dan retorika xenofobia yang menargetkan pengungsi di negara-negara Barat, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Selasa.
Dalam rangka memperingati Hari Pengungsi Sedunia pada 20 Juni, Erdogan menekankan bahwa orang-orang di seluruh dunia, termasuk di wilayah sekitar Turkiye, dipaksa oleh keadaan untuk bermigrasi karena masalah terorisme, konflik, perang saudara, kelaparan, dan kekeringan.
"Jumlah pengungsi telah mencapai hampir 110 juta hari ini. Di antara mereka, 35,3 juta pengungsi tetap berada di luar tanah air mereka, sementara 62,5 juta telah mengungsi di negara mereka sendiri," ujar Presiden Erdogan.
"Sikap kami terhadap migrasi tidak teratur dan masalah pengungsi, yang menimbulkan tantangan global, adalah untuk melindungi kehidupan dan martabat manusia dalam kaitannya dengan keamanan negara kami," lanjut dia.
Erdogan menyoroti bahwa Turkiye, yang secara historis melindungi mereka yang melarikan diri dari penganiayaan, sekali lagi menunjukkan sikap kemanusiaan yang sama dalam menghadapi krisis dari Suriah hingga Ukraina.
“Turkiye selalu memenuhi tugasnya untuk kemanusiaan, bertetangga, dan mendukung pengembalian pengungsi yang aman, sukarela, dan bermartabat ke negara mereka dan mengimplementasikan proyek yang diperlukan untuk tujuan ini."
Dia menambahkan bahwa Turkiye menolak ujaran kebencian, ideologi neo-Nazi, retorika anti-Muslim dan xenofobia terhadap pengungsi yang telah menyebar ke masyarakat lain setelah mengakar di negara-negara Barat.
'Mediterania berubah jadi kuburan bagi para migran'
"Kami menganggap pendekatan yang tidak menerima siapa pun selain ras, budaya, dan kepercayaan mereka sendiri sebagai ancaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan masa depan bersama umat manusia," ujar presiden Turkiye.
Mengutip tragedi tenggelamnya sebuah kapal migran di lepas pantai barat daya Yunani, Erdogan mengatakan, "Mediterania, yang telah menjadi tempat lahirnya peradaban sepanjang sejarah, telah berubah menjadi kuburan besar bagi pengungsi dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar karena pengaruh pendekatan arogan yang berakar pada kolonialisme.”
Sejauh ini 81 migran telah dipastikan tewas dalam tenggelamnya kapal di perairan Yunani, namun jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat, karena para penyintas mengatakan kapal tersebut membawa lebih dari 600 orang, kebanyakan dari Pakistan, Mesir, dan Suriah.
Erdogan menambahkan bahwa masyarakat internasional, terutama negara-negara yang menyuarakan hak asasi manusia dan demokrasi, harus bertanggung jawab.
“Masalah pengungsi dapat diselesaikan dengan menghilangkan akar penyebab migrasi dan pemindahan paksa,” tukas Erdogan.