Muhammad Nazarudin Latief
05 Oktober 2018•Update: 05 Oktober 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Volume ekspor minyak sawit Indonesia pada Agustus membukukan rekor tertinggi tahun ini, yaitu 3,3 juta ton atau naik 2 persen dibanding Juli, namun kondisi ini belum juga mampu mengerek harga komoditas ini di pasar global.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan pembelian tertinggi dicatatkan oleh India sebanyak 823 ribu ton atau meningkat 26 persen dibanding bulan lalu.
“Ini volume perdagangan sawit Indonesia dengan India yang tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Mukti di Jakarta, Jumat.
Peningkatan impor CPO dibukukan oleh Tiongkok sebesar 26 persen, Amerika Serikat 64 persen, negara- negara Afrika 19 persen dan Pakistan 7 persen.
Menurut Mukti, perselisihan dagang Amerika Serikat dan India memberikan peluang Indonesia untuk memasok minyak nabati pengganti minyak kedelai. Juni lalu, India menaikkan bea masuk crude and refined kedelai, bunga matahari kacang tanah dan rapeseed masing-masing 35 persen untuk refined produk dan 45 persen untuk crude grade.
“Permintaan tinggi ini belum mengerek harga CPO. Justru harga yang sedang rendah ini dimanfaatkan trader untuk membeli sebanyak-banyaknya,” ujar dia.
Harga CPO pada di Bursa Derivatif Malaysia saat ini berada pada level MYR 2.227/ton pada perdagangan hari ini Kamis. Harga CPO pernah mencapai MYR 3.623 atau setara 1.179 dollar AS per metrik ton. Sepanjang Agustus ini, harga bergerak pada kisaran USD542,5-577,50 per metrik ton. Ini merupakan harga terendah yang dibukukan sejak Januari 2016.
“Harga CPO ini terus tertekan karena harga minyak nabati lain yang sedang jatuh, khususnya kedelai. Selain itu, stok sawit juga masih melimpah di Indonesia dan Malaysia,” ujar Mukti.
Penurunan impor CPO dicatatkan di negara-negara Uni Eropa yang turun cukup dalam hingga 10 persen diikuti Bangladesh yang turun hingga 62 persen. Uni Eropa menahan impor karena masih kebanjiran stok minyak rapeseed dan bunga matahari. Sedangkan Bangladesh saat ini masih menumpuk stok CPO setelah mengimpor cukup tinggi bulan lalu.
Meski ekspor Agustus naik, secara tahunan kinerjanya justru mengalami penurunan 2 persen. Dari 20,43 juta ton pada Januari-Agustus 2017 menjadi hanya 19,96 juta ton pada periode yang sama tahun ini.
Dari sisi produksi, menurut Mukti sepanjang Agustus mencapai 4 juta ton atau turun 5 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,28 juta. Penurunan ini terjadi karena faktor iklim dan pola produksi bulanan yang menyebabkan petani tidak memanen dengan maksimal karena harga sedang rendah.
Tumpukan stok sawit ini sebelumnya diharapkan bisa berkurang dengan implementasi kewajiban kandungan B20. Namun ternyata belum bisa mengurangi stok secara signifikan.
“Jika ada akselerasi program B20 pada sektor non Public Service Obligation (PSO) kami yakin bisa menyerap CPO dalam negeri secara signifikan,” ujar Mukti.
Tekanan pada sawit
Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Rino Afrino tekanan pada industri sawit di Indonesia juga dirasakan oleh aksi-aksi NGO antisawit.
Salah satunya adalah Greenpeace yang melakukan aksi konser musik anti-sawit di tangki minyak siap ekspor milik Grup Wilmar pemasok untuk merek Nestlé, Unilever, Colgate dan Mondelez.
Aksi ini, menurut Rino adalah kampanye hitam yang berdampak negatif bagi industri sawit secara keseluruhan.
Jika aksi ini memengaruhi kegiatan ekspor Wilmar, maka dampaknya akan berbuntut pada petani karena tandan buah segar (TBS) tidak bisa dijual.
Sebelumnya sawit Indonesia harus menghadapi pashing out (pengurangan penggunaan) sawit sebagai bahan dasar biodiesel di negara-negara Uni Eropa. Parlemen UE sepakat menghapus penggunaan produk kelapa sawit dan bahan bakar alami (biofuel) dengan bahan dasar tanaman bagi semua negara anggotannya pada 2021.
Parlemen juga sepakat menekan hingga maksimal 7 persen penggunaan sawit untuk sumber energi terbarukan transportasi sampai 2030.
Pada akhir bulan lalu, Greenpeace bersama empat personel grup band musik Boomerang menduduki kapal penyuplai minyak sawit dan tangki timbun milik Wilmar.
Menurut Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global untuk Indonesia, Greenpeace, minyak sawit yang diproduksi ini merupakan hasil praktik deforestasi di berbagai termpat, termasuk Papua.
“Kami mendesak industri segera menepati janjinya dalam membersihkan rantai pasoknya dari para perusak hutan,” ujar Kiki Taufik.
Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Viva Yoga Mulyadi mencurigai ada persaingan dagang dalam aksi-aksi anti-sawit Indonesia. Menurut Viva, karena produktivitasnya tinggi, sawit selalu menjadi ancaman pasar minyak nabati lain.