Rhany Chairunissa Rufinaldo
19 September 2018•Update: 20 September 2018
Faruk Zorlu
ANKARA
Ahli bedah Amerika berdarah Turki sekaligus pembawa acara talk show Dr Mehmet Oz mengatakan dia sangat tersentuh oleh kunjungannya pada bulan Juli ke kamp-kamp pengungsi di Turki dan Suriah, mengatakan bahwa pengalaman itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah dia lupakan.
"Saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi kamp-kamp pengungsi Suriah di sepanjang perbatasan Suriah-Turki dengan bantuan Otoritas Penanggulangan Bencana dan Keadaan Darurat Turki (AFAD) dan Bulan Sabit Merah Turki.
"Meskipun orang-orang yang kami temui telah bertahan dari kesulitan, kisah mereka memberi inspirasi. Ini adalah perjalanan yang mengubah saya selamanya," kata Oz Senin dalam postingan di akun Twitter-nya.
Oz - yang dikenal luas karena program televisinya The Dr. Oz Show dan telah memenangkan sejumlah penghargaan Emmy - mengunjungi kamp-kamp pengungsi di provinsi Gaziantep Turki dan wilayah Azaz di barat laut Suriah pada Juli.
Dia membagikan rekaman di akun Twitter-nya tentang kota Homs yang hancur akibat perang di Suriah barat serta kunjungannya ke kamp-kamp.
"Sebelumnya saya tidak pernah ke kamp pengungsi. Saya tidak tahu apa yang harus saya harapkan. Hal pertama yang mengejutkan saya adalah keramahan," kata Oz dalam rekaman video yang diambil di sebuah kamp pengungsi di Turki.
Menyoroti upaya pihak berwenang Turki, Oz mengatakan "Saya duduk berbicara dengan anak-anak saat mereka melukis, menyadari bahwa banyak dari mereka menderita PTSD (gangguan stres pasca trauma) dan telah kehilangan hampir segalanya. Saya sangat terkejut oleh kemampuan mereka menyembunyikan rasa sakit."
Dia kemudian melakukan perjalanan melintasi perbatasan Suriah ke wilayah Azaz di utara Aleppo, di mana dia mengunjungi kamp pengungsi lain.
"Saat memasuki klinik kesehatan, saya terkejut dan khawatir karena menemukan teknologi yang sangat tidak memadai, kurangnya peralatan, fasilitas yang tidak teratur, dan untuk 11.000 orang yang tinggal di kamp ini, hanya ada satu dokter yang bekerja dalam satu shift."
Saat kunjungannya ke kamp, ia didekati oleh seorang pria karena putrinya yang berusia 12 tahun membutuhkan perawatan medis. Pria itu mengundang Oz ke rumahnya.
"Kami bertemu dengan Zaynab. Dia terlahir dengan cacat jantung. Tapi sebelum dokter sempat melakukan operasi, terjadi perang. Keluarganya berakhir di sini. Mereka putus asa. Aku melihat ekokardiogramnya dan memeriksanya, darah Zaynab tidak membawa oksigen yang cukup, jadi dia berubah menjadi biru. Dia kurus, lemah, dan mudah lelah. Jika dibiarkan tidak diobati, dia tidak akan bertahan hidup sampai dewasa.”