Pizaro Gozali İdrus
03 Januari 2018•Update: 04 Januari 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Peneliti Timur Tengah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hamdan Basyar mengatakan demonstrasi di Iran berpotensi untuk semakin membesar.
Demo ini, sebut dia, terjadi karena kekecewaan atas kondisi ekonomi yang memburuk. Padahal ada harapan masyarakat ketika PBB dan AS mencabut sanksi kepada Iran di tahun 2015.
“Tapi hingga saat ini pegangguran cukup tinggi dan harga-harga melambung,” ujar Hamdan kepada Anadolu Agency, Rabu, di Jakarta.
Namun, lanjut Hamdan, gelombang demonstrasi di Iran bukan kali ini saja terjadi. Pada tahun 2009, massa juga melakukan protes atas hasil pemilu yang ditengarai curang guna memenangkan pemimpin konservatif Iran Mahmoud Ahmadinejad.
Bedanya, kata Hamdan, dulu sasaran demonstrasi dan para pemimpin aksi jelas digerakkan kelompok oposisi reformis.
“Sekarang targetnya tidak jelas, tak ada pemimpinnya. Ada kecurigaan pihak luar bermain menumpangi ketidakpuasan masyarakat,” jelas Hamdan.
Tak menggeser Rahbar
Meski demonstran turut mengkritisi posisi Ali Khamenei sebagai Pemimpin Agung alias Rahbar atau Pemimpin Revolusi Islam Iran, Hamdan meyakini sistem wilayatul faqih di Iran tak akan bergeser.
Wilayatul Faqih adalah konsep politik Syiah di mana kekuasaan tertinggi dipimpin oleh seorang imam. Kini, Imam tertinggi dipegang oleh Ali Khameni setelah Ayatulloh Khomeini wafat.
“Kekuasaan Rahbar cukup besar di Iran, walau presiden dipilih demokratis,” ujar dia.
Hamdan juga mengatakan di bawah kekuasaan Rouhani, Iran sudah lebih moderat dibanding Ahmadinejad.
Jadi, menurut Hamdan, isu konservatisme di Iran tidak lagi sekuat di masa kepemimpinan Ahmadinejad.
“Sulit menggoyang Rahbar karena tidak akan pemimpin yang kuat saat ini untuk menggoyang Ali Khamenei,” jelas Hamdan.
Potensial Arab Spring
Pengamat Hubungan Internasional Sofwan Al Banna mengatakan tak menutup kemungkinan Iran jatuh pada fenomena Arab Spring jika Rouhani gagal meredam demonstrasi.
Saat ini, kata Sofwan, para pemimpin oposisi masih menjaga jarak dengan demonstrasi karena tengah berhitung seberapa besar protes ini bisa bertahan.
“Kalau demonstrasi ini terus berlanjut dan skalanya membesar, mungkin mereka akan turun seperti di Tunisia dan Mesir,” jelas Ketua Jurusan Hubungan Internasional UI ini.
Shofwan memprediksi jika Rouhani gagal meredam gelombang protes, setidaknya ada dua skenario yang terjadi di Iran.
Pertama, kelompok oposisi akan menuntut terjadinya perubahan radikal berupa perubahan sistem.
Kedua, kelompok reformis utama akan mengajukan agenda perubahan-perubahan terukur tanpa perlu menggulirkan revolusi.
“Biasanya kelompok reformis tidak sampai pada titik revolusi Islam Iran,” jelas Shofwan.
Demonstrasi anti rezim di Iran telah memasuki hari keenam. Hingga kini, sudah 23 orang dilaporkan tewas sementara lebih dari 500 orang ditahan.