Rıskı Ramadhan
03 Januari 2018•Update: 03 Januari 2018
ANKARA
Rezim Bashar al-Assad dengan dukungan Rusia dan organisasi teroris Daesh mengintensifkan serangan di perbatasan selatan zona de-eskalasi Idlib, Suriah.
Oposisi militer dan sejumlah kelompok penentang rezim berusaha menghentikan langkah rezim di Idlib dengan melakukan pertahanan bersama.
Sejak Oktober 2017, rezim didukung oleh Rusia dari udara dan bekerja sama dengan Daesh telah melanggar gencatan senjata di bagian utara kota Hama dan selatan Idlib.
Dalam pertemuan Astana ke-8 yang diprakarsai oleh Turki dan Rusia pada 21-22 Desember lalu, delegasi oposisi militer melalui peta menyoroti serangan rezim, Rusia dan Daesh yang terjadi pada waktu yang sama.
Menurut penjelasan tersebut, rezim membuka jalan kepada Daesh melalui daerah Hunayfis yang terletak di bagian timur kota Hama, dan kemudian memberikan akses kepada Daesh untuk masuk ke wilayah yang dikuasai oleh penentang rezim Hayat Tahrir al-Sham dan kelompok oposisi.
Sementara itu, sebagai timbal baliknya Daesh mengizinkan tentara rezim untuk masuk ke Idlib melalui wilayah Hanesir yang terletak di jalan yang terhubung dari selatan Aleppo ke Hama.
Menurut informasi yang diperoleh reporter Anadolu Agency dari sumber tentara oposisi di lapangan, serangan Rusia dan rezim Assad di wilayah pemukiman penduduk di selatan Idlib dan upaya masuknya ke utara Hama terjadi bersamaan dengan serangan Daesh di bagian timur Hama.
Pada bulan lalu, oposisi militer kehilangan kendali atas beberapa wilayah permukiman di utara Hama akibat serangan udara Rusia.
Dengan begitu, rezim Assad berhasil menyusup ke zona de-eskalasi Idlib dengan dukungan Rusia.
Serangan rezim dan Daesh meningkat dalam satu pekan terakhir. Rezim Assad berhasil merebut sejumlah desa di perbatasan Hama di Idlib.
Kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan beberapa kelompok penentang rezim mulai bergerak bersama menghadapi serangan rezim dan Daesh.
Kelompok-kelompok tersebut termasuk Ahrar al-Sham, Nour al-Din al-Zenki, Tentara Pembebasan Idlib, dan Hayat Tahrir al-Sham.
Kepada Anadolu Agency, Juru Bicara Tentara Pembebasan Idlib Mustafa al-Hussein menjelaskan kerja sama rezim dan Daesh.
“Daesh mencoba maju di wilayah pedesaan Hama dan Idlib dengan koridor yang dibuka oleh rezim dan dukungan udara Rusia. Rusia dari udara dan penyerang artileri Assad dari darat. Daesh semakin maju saat kami terpaksa mundur,” ungkap dia.
Menurut Hussein, dengan cara ini Daesh berhasil merebut wilayah seluas sekitar 30 kilometer persegi.
“Menurut kami, rezim Assad memberikan dukungan amunisi kepada Daesh,” ujar dia.
Hussein mengatakan, beberapa oposisi dan kelompok penentang rezim bergerak bersama.
“Kami membagi dan melindungi areal tertentu dalam garis depan yang besar."
Konflik antara oposisi dan Assad serta kelompok teroris asing pendukungnya masih terus berlanjut di sekitar desa Huveyn yang terletak di bagian utara Hama.
Sementara itu, ribuan warga sipil yang tepaksa melarikan diri, mengungsi ke kamp-kamp penampungan di utara Idlib.
Idlib yang terletak di utara Suriah dan berbatas dengan Turki ditetapkan sebagai zona de-eskalasi dalam pertemuan Astana pada 4-5 Mei lalu.
Angkatan Bersenjata Turki masuk ke Idlib pada 13 Oktober untuk gencatan senjata sesuai dengan kesepakatan yang dibuat bersama negara penjamin Rusia dan Iran.