Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 September 2018•Update: 04 September 2018
Emre Aytekin
ANKARA
Sengketa diplomatik pemerintahan Trump dengan Turki mengingatkan pada 'kecerobohan' mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill selama Perang Dunia I yang mengakibatkan Kekaisaran Ottoman bergabung dengan Imperial Jerman dalam perang, menurut seorang ahli AS.
Martin Sieff yang bekerja sebagai koresponden senior untuk United Press International dan The Washington Times selama 24 tahun dan juga kerap muncul di CNN, NPR, Fox News dan BBC sebagai komentator, membuat pernyataan itu dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada situs web Strategic Culture Foundation yang berbasis di AS.
"Hari ini kebijakan Washington yang gegabah dan kasar terhadap Turki mengulang bencana yang ditimbulkan oleh Churchill lebih dari satu abad yang lalu," tulis Sieff dalam artikel berjudul "Mengulangi Kecerobohan Churchill: Akankah AS Mendorong Turki ke dalam Perjanjian Pakta Shanghai?".
Sieff mengatakan bahwa Churchill, sebagai kepala politik Angkatan Laut Inggris, memerintahkan penyitaan dua kapal perang canggih yang dibangun di galangan kapal Inggris untuk Turki meskipun mereka sudah dibayar, dan ini "menggiring Kekaisaran Ottoman Turki ke dalam Perang Dunia I di pihak Imperial Jerman dan Kekaisaran Austro-Hungarian”.
"Hari ini, langkah itu secara politik dan psikologis sama saja dengan memberi tahu Turki bahwa Amerika Serikat tidak akan menjual pesawat tempur F-35 yang telah dijanjikan," tulis Sieff.
Pada Juni, Senat AS meloloskan RUU yang melarang penjualan jet F-35 ke Turki, mengutip keputusan Ankara untuk membeli sistem pertahanan rudal udara S-400 Rusia serta penahanan terhadap warga negara AS.
Desember lalu, Turki mengumumkan telah menyelesaikan kesepakatan dengan Rusia untuk pembelian dua sistem S-400 pada awal 2020. Bulan April ini, kedua belah pihak menyetujui pengiriman lebih awal sistem tersebut.
Menurut Sieff, semakin banyak orang Turki yang “tidak lagi mempercayai NATO,” dan “satu-satunya badan keamanan internasional yang jelas bagi Turki untuk mencari perlindungan adalah Organisasi Kerja sama Shanghai (SCO)”.
SCO adalah organisasi politik, ekonomi, dan keamanan Eurasia yang didirikan pada tahun 2001, awalnya beranggotakan Rusia, China, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, dan Uzbekistan.
Tahun lalu, India dan Pakistan bergabung dengan organisasi ini. Sementara Iran dan Afghanistan saat ini berstatus sebagai pengamat.
“Hari ini Washington sedang menggerakkan langit dan bumi untuk mengintegrasikan kekuatan-kekuatan besar dunia seperti Makedonia, Montenegro dan Georgia ke dalam NATO untuk bergabung dengan pilar-pilar penting keamanan dunia Estonia, Latvia dan Lithuania. Dan pada saat yang sama, Washington berobsesi menjatuhkan sanksi yang menghancurkan Turki,” tulis Sieff.
“Meskipun telah menjadi anggota utama NATO selama 63 tahun, Turki terus memainkan peran penting dalam penempatan strategis AS di seluruh Mediterania Timur dan Timur Tengah. Kerja samanya sangat penting untuk memastikan pasokan dan -- jika perang pecah dengan Rusia -- kelangsungan hidup semua kapal perang AS yang beroperasi di Laut Hitam. ”