Adham Kako dan Levent Tok
ANKARA
Pemerintah Amerika Serikat memperingatkan oposisi Suriah untuk tidak mendukung operasi militer Turki yang direncanakan di wilayah timur Sungai Eufrat, Suriah, dekat perbatasan dengan Turki.
Setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Rabu mengumumkan bahwa operasi untuk membersihkan kawasan, yang terletak di sebelah timur Sungai Efrat, dari teroris YPG/PKK akan mulai dalam beberapa hari, Pemerintah AS memulai kampanye untuk menghalangi operasi tersebut.
Para pejabat intelijen dan diplomatik Amerika mulai mengancam oposisi Suriah, sementara Presiden AS Donald Trump dan para menteri dan pejabat militer AS menyampaikan keprihatinan mereka dalam panggilan telepon ke rekan-rekan sejawat mereka di Ankara.
Dalam sebuah pesan kepada Tentara Pembebasan Suriah dan Koalisi Nasional untuk Pasukan Revolusioner dan Oposisi Suriah (SMDK), para pejabat AS meminta mereka untuk tidak mendukung operasi Turki yang telah direncanakan.
"Partisipasi dalam bentuk apa pun adalah serangan terhadap Amerika Serikat dan Pasukan Koalisi dan itu akan mengarah pada konfrontasi langsung. Hal itu akan sepenuhnya menghancurkan hubungan antara Amerika Serikat dan Koalisi Nasional Suriah dan Tentara Pembebasan," bunyi pesan tersebut.
Pesan itu juga mengatakan bahwa pasukan AS dan YPG/PKK saling terkait, sehingga Pasukan Demokratis Suriah (SDF) tidak dapat diserang tanpa agresi dan konfrontasi dengan pasukan koalisi dan pasukan AS."
"Ketika gajah menari, Anda harus menjauh dari lantai dansa," para pejabat AS memperingatkan.
Sebelumnya, Turki telah meluncurkan dua operasi anti-teror sejak 2016 untuk menggagalkan pembentukan koridor teror di sepanjang perbatasan Turki.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye teror melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - telah bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak.