Dunia

Anak di Jammu dan Kashmir membayar harga sebuah konflik

Jelang Hari Anak Sedunia, Anadolu Agency bertemu Yawar sedang berjuang melawan cacat mental setelah kepalanya dihantam selongsong gas air mata

Nani Afrida   | 20.11.2020
Anak di Jammu dan Kashmir membayar harga sebuah konflik Yawar Ahmed Bhat, 23, di rumahnya. Saat usia 12 tahun kepalanya dihantam selongsong gas air mata sehingga mengalami cacat mental. (Foto file- Anadolu Agency)

Jammu and Kashmir

Nusrat Sidiq

SRINAGAR, Jammu dan Kashmir (AA)

Seorang anak yang harusnya bermasa depan cerah Yawar Ahmed Bhat, 23, sekarang berjuang sendirian menghadapi masalah mental di Jammu dan Kashmir yang dikelola India.

Hidup Yawar terhenti pada 2009 saat sedang berusia 12 tahun, ketika selongsong gas air mata menghantam kepalanya.

Saat itu Polisi berusaha menghentikan aksi protes yang meletus karena pemerkosaan dan pembunuhan dua wanita, Asiya dan Neelofar.

Menjelang peringatan Hari Anak Sedunia pada Jumat, kelompok pembela hak asasi manusia percaya bahwa banyak anak seperti Yawar telah menghadapi kondisi terburuk di wilayah tersebut sejak pecahnya pemberontakan sipil pada tahun 2008.

Kerabat Yawar mengatakan, Yawar mengalami kecacatan mental hingga 75 persen dan kondisi trauma bahkan setelah 11 tahun tragedi itu terjadi.

“Dia telah kehilangan ibu, sekolah, teman-teman dan terpaksa hidup dengan ingatan lemah. Dia tidak normal sekarang. Inilah yang telah dilakukan negara terhadap anak saya, "kata ayahnya Mohammad Ibrahim Bhat kepada Anadolu Agency.

Meskipun pihak berwenang mengakui bahwa bocah itu tidak ikut aksi protes, dia tidak mendapatkan kompensasi apa pun.

“Saya menjual apa pun yang saya miliki, bahkan toko kecil saya dan perhiasan emas kedua putri saya untuk mengobati putra saya. Tapi negara telah berlaku tidak adil, sehingga saya harus meminta ganti rugi meski pemerintah mengakui tanggung jawabnya atas kondisi anak saya, ”kata Bhat.

Dia ingat saat tragedi itu putranya pergi membeli makanan di toko terdekat.

“Awalnya kami tidak tahu dia terkena peluru,” kata sang ayah seraya menambahkan bahwa anaknya sudah dibawa ke rumah sakit saat mereka tiba di lokasi kejadian.

“Dia kritis karena beberapa bagian otaknya rusak. Dokter mengatakan kepada saya bahwa dia perlu dioperasi, tapi itu juga berisiko, ”tambah Bhat.

Melihat kondisi anaknya, Bhat akhirnya setuju kalau Yawar dioperasi. Tapi ketika operasinya selesai, Yawar menghabiskan 11 bulan dalam keadaan koma, di unit perawatan intensif rumah sakit dan kemudian di rumah.


Tidak ada akuntabilitas

Saat Yawar terbaring di tempat tidur dalam keadaan tidak sadar, ibunya Gulshan Jan meninggal dunia karena serangan jantung parah.

“Dia menatap Yawar dan menangis. Dia tidak tahan sakit, meninggal tahun 2014, "kata Bhat.

Dia mengatakan bahwa selain mengalami 75 persen kecacatan mental, Yawar juga menjadi agresif.

Meski polisi telah mengakui bahwa Yawar tidak terlibat dalam kegiatan subversif, namun tidak ada yang dimintai pertanggungjawaban atas kondisinya yang memprihatinkan.

Dalam surat resmi, pejabat tinggi Polres mengatakan bahwa pada tanggal 30 Juni 2009, saat membubarkan massa, peluru asap air mata yang ditembakkan oleh polisi menghantam jendela toko di kawasan Aahli Masjid Gali Maisuma yang melambung dan menimpa seorang anak laki-laki yaitu Yawar Ahmad yang kebetulan sedang melintas.

“Ahli medis mengatakan cedera yang terjadi pada Yawar sangat menyedihkan, padahal dia tidak terlibat dalam segala jenis aktivitas subversif. Penyelidikan kasus ini telah ditutup karena tidak terlacak, "kata surat itu, yang ditujukan kepada hakim distrik.


Anak-anak pada akhirnya menjadi korban

Sebuah laporan tahun 2019 berjudul Penyiksaan: Instrumen Kontrol India di Jammu dan Kashmir yang dikeluarkan oleh sebuah kelompok masyarakat sipil menyatakan bahwa anak-anak dan remaja laki-laki telah terpapar luka fisik dan mental yang cukup dalam dalam konflik tersebut.

Laporan lain oleh LSM Action Aid mengatakan ketika anak-anak diharapkan untuk menikmati kehidupan yang bebas stres, mereka justru terlihat bermain dengan senjata, mendiskusikan darah dan balas dendam di wilayah tersebut.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Dr. Yasir Rather, seorang psikiater, mengatakan konflik di Kashmir sangat mempengaruhi anak-anak secara langsung atau tidak langsung.

“Untuk membiarkan seorang anak tumbuh normal, ada kebutuhan akan lingkungan yang lebih baik dan sayangnya gejolak politik selama bertahun-tahun di tempat itu telah merugikan jiwa anak-anak,” katanya.

Sejak 5 Agustus 2019, ketika India mencabut status khusus wilayah tersebut dan kemudian karena wabah Covid-19, anak-anak tidak bersekolah.

Selain itu karena pembatasan di internet, pendidikan online juga dianggap tidak terlalu penting.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın