Dunia, Nasional

Aktivis Indonesia: Anak-anak Palestina sulit mengakses pendidikan

Otoritas Israel memblokade jalan dan menghancurkan rumah dan sekolah-sekolah, serta mengancam para guru yang mengajar

Adelline Tri Putri Marcelline   | 08.04.2021
Aktivis Indonesia: Anak-anak Palestina sulit mengakses pendidikan Ilustrasi: Dua anak Palestina terlihat di Yatta dekat Hebron, Tepi Barat. (Issam Rimawi - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Hak dasar anak-anak Palestina di bidang pendidikan masih belum terpenuhi.

Aktivis kemanusiaan Indonesia di Palestina, Abdillah Onim mengatakan anak-anak Palestina masih sulit belajar di sekolah-sekolah.

“Karena otoritas Israel melakukan blokade jalan, menghancurkan rumah dan sekolah serta melancarkan ancaman untuk para guru yang mengajar,” kata Onim kepada Anadolu Agency, pada Rabu

Abdillah Onim berbicara kepada Anadolu Agency bertepatan dengan Hari Anak Palestina setiap tanggal 5 April.

Peringatan ini bertujuan untuk mendukung anak-anak Palestina memperoleh hak-hak paling dasar dalam menikmati masa kanak-kanak serta hak untuk hidup.

Tak hanya sulit mengakses pendidikan, dia juga mengungkap bahwa setengah juta anak Palestina berasal dari keluarga miskin.

Menurut dia, penjajahan oleh Israel ikut menyumbang angka kemiskinan untuk Palestina.

Sulitnya ekonomi Palestina, kata Onim, membuat tiga persen atau sekitar 69.300 anak dari total 2,31 juta anak Palestina tidak bisa merasakan pendidikan di bangku sekolah.

Anak-anak Palestina yang putus sekolah biasa didapati di pasar, restoran dan hotel karena mereka bekerja untuk menopang ekonomi keluarga, kata dia.

“Sebagian mereka ada juga yang berprofesi sebagai buruh bangunan dan petani,” lanjut Onim.

Dia juga mencatat, setidaknya 645 anak Palestina hidup bersama keluarga miskin dengan persentase 14 persen di Tepi Barat dan 53 persen di Gaza.

“Jumlah angka kemiskinan di Gaza lebih besar dibandingkan Tepi Barat, disebabkan oleh blokade Israel yang telah berlangsung belasan tahun,” jelas Onim.

Sementara itu, Perkumpulan Tahanan Palestina (PPS) dalam sebuah laporan, pada Minggu, mengatakan bahwa otoritas Israel telah menangkap 230 anak Palestina sejak awal tahun ini.

PPS, yang memantau kondisi tahanan di penjara Israel, mengatakan penangkapan terkonsentrasi di kota Yerusalem yang diduduki.

Kelompok HAM itu juga mengatakan bahwa para tahanan sering dibebaskan dengan jaminan atau dengan memindahkan mereka ke tahanan rumah, tanpa menyebutkan jumlah yang dibebaskan.

"Anak-anak yang dipenjara menjadi sasaran berbagai bentuk pelecehan, termasuk tidak diberi makan atau minum selama berjam-jam, pelecehan verbal dan ditahan dalam kondisi yang keras," ungkap laporan itu.

Pertahanan untuk Anak Internasional (DCI) cabang Palestina mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 85 persen dari anak-anak yang ditangkap tahun lalu menjadi sasaran kekerasan fisik.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın