Dunia, Regional

800 warga Chin, Myanmar, melarikan diri usai diamuk pasukan junta

Militer Myanmar menggerebek empat desa setelah terjadi pertempuran antara pasukan junta dengan kelompok pertahanan lokal

Devina Halim   | 27.07.2021
800 warga Chin, Myanmar, melarikan diri usai diamuk pasukan junta Ilustrasi: Suasana Myanmar. ( İslam Yakut - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Sebanyak 800 warga dari empat desa terpaksa melarikan diri akibat amukan tentara Myanmar di Kotapraja Falam, Negara Bagian Chin, pada pekan lalu.

Media lokal Myanmar Now melaporkan militer menggerebek empat desa setelah terjadi pertempuran antara pasukan junta dengan Pasukan Pertahanan Nasional Chin (CNDF) pada 20 Juli.

Keempat desa yang menjadi target penggerebekan oleh militer Myanmar berlokasi sekitar 12 mil dari kota Falam, yakni Taal, Tlangzawl, Thlanrawn, dan Zomual.

Menurut salah satu warga, setengah dari rumah yang berada di Taal, sebuah desa dengan 40 rumah tangga, hancur.

“Militer mulai menembaki segala sesuatu yang terlihat. Kami harus melarikan diri dengan panik. Kami bahkan tidak bisa pulang sekarang,” kata sumber lokal seperti diberitakan Myanmar Now, Senin.

Sumber itu menyebutkan pasukan militer juga mengambil persediaan minyak, 30 selimut, serta menginjak beras milik warga.

Menurut sumber tersebut para tentara sekaligus menyita tiga telepon genggam milik dua pemuda yang kembali ke desa untuk mengambil persediaan.

Maka dari itu, para warga yang mengungsi sangat membutuhkan makanan, tempat berlindung, serta selimut.

Myanmar Now tidak mendapat tanggapan ketika mencoba meminta komentar otoritas militer terkait penggerebekan tersebut.

Pada pekan lalu, bentrokan baru terjadi di Kotapraja Mindat, bagian selatan dari Chin, setelah gencatan senjata sempat berlaku pada akhir Juni.

Kelompok bersenjata yang beranggotakan warga lokal terbentuk di beberapa area pedesaan di Negara Bagian Chin, begitu pula di Sagaing dan Negara Bagian Kayah.

Sementara, kelompok etnis bersenjata yang sudah dikenal seperti Partai Progresif Nasional Karenni dan Front Nasional Chin juga terlibat dalam pertempuran di daerah yang sama.

Kelompok etnis bersenjata lain yang terlibat bentrok dengan militer Myanmar sejak kudeta yakni Tentara Kemerdekaan Kachin dan Tentara Pembebasan Nasional Karen.

Sumber dalam kelompok etnis bersenjata mengungkapkan mereka memprediksi pertempuran akan meningkat seiring hadirnya bala bantuan militer ke Negara Bagian Kachin, Kayah, Kayin, dan Chin.

Myanmar diguncang kudeta militer pada 1 Februari dengan menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi.

Militer berdalih pemilu yang mengantarkan Suu Kyi terpilih dengan suara terbanyak penuh kecurangan.

Kelompok masyarakat sipil mencatat pasukan junta telah menewaskan 934 orang sejak kudeta militer di Myanmar.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın