Iqbal Musyaffa
04 Oktober 2017•Update: 05 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Presiden Indonesia Joko Widodo, Selasa, mengimbau agar kekhawatiran akan teroris menjadi hambatan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Jokowi, panggilan akrab presiden, diketahui membuat program bebas visa untuk beberapa negara dua tahun lalu. Tujuannya, untuk menggenjot sektor pariwisata.
Namun, sebut Jokowi, ada jajarannya yang khawatir bila program bebas visa dibuka terlalu luas, maka akan mempermudah teroris untuk masuk ke Indonesia.
“Tidak perlu menakut-nakuti Presiden. Saya enggak punya takut,” tegas Jokowi saat berbicara dalam Rapat Koordinasi Nasional Kamar Dagang Indonesia.
Saat ini, Indonesia telah membuka fasilitas bebas visa untuk 14 negara. Sementara, sebut Jokowi, Singapura sudah membuka bebas visa untuk 170 negara.
“Bagaimana mau bersaing kalau seperti ini?” Jokowi bertanya.
Lebih lanjut, bila kebijakan bebas visa dibuka untuk lebih banyak negara, Jokowi sesumbar akan terjadi lonjakan pesat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2019.
Yang tak kalah penting, ungkap Jokowi, perbaikan produk pariwisata dan pembangunan citra pariwisata harus dilakukan secara beriringan.
“Jangan sampai kita gembar-gembor bangun brand, tapi wisatawan kecewa enggak mau datang lagi,” tambah dia.
Menurut presiden, banyak objek pariwisata nasional yang sangat layak untuk dijual kepada wisatawan asing. Oleh karena itu, Jokowi mengaku mematok target tinggi kepada Menteri Pariwisata Arief Yahya agar bisa mendatangkan hingga 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2019 mendatang.
“Jadi menteri kalau tidak diberi target, terlalu enak. Taruhannya jabatan kalau gagal,” kata Jokowi.
Upaya menggenjot pariwisata ini mulai terlihat hasilnya dengan meningkatnya kunjungan wisatawan asing periode Januari-Agustus tahun ini yang mencapai 9,25 juta kunjungan, melebihi pencapaian pada periode yang sama tahun 2016 yang hanya sebanyak 7,36 kunjungan.