10 Juli 2017•Update: 10 Juli 2017
Megiza
JAKARTA
Kendala pengembangan industri perikanan seperti pasokan bahan baku, infrastruktur, sarana dan prasarana, serta kebijakan dan peraturan membuat Kementerian Perindustrian Indonesia putar otak untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Dalam kunjungannya ke Jepang akhir pekan lalu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengaku mendapat inspirasi untuk mengikuti sistem pasar ikan di Tokyo. Pasar Tsukiji, disebutnya, mempunyai catatan transaksi ikan yang layak dicontoh.
“Bisnis dari industri perikanan di Jepang omzetnya cukup besar dan bisa menjadi contoh bagi pengembangan di Indonesia,” kata Hartarto dalam pernyataan resminya.
Diketahui, Pasar Tsukiji mulai beroperasi sejak tahun 1935 dan menjadi pusat grosir hasil laut dan pertanian yang tertua di antara sebelas pasar pusat grosir metropolitan Tokyo. Setiap harinya, transaksi ikan di Tsukiji mencapai 2,167 ton dengan putaran uang per hari sebesar 1,77 miliar yen.
“Ekspor udang kita sangat bagus. Selain itu, ada industri lain yang sudah advanced di pasar ekspor pada bidang processing food, dan ada juga yang di kelompok ikan segar dan kaleng. Ini yang akan kami dorong untuk tumbuh,” ujarnya.
Berdasarkan catatan Kemenperin, industri pengolahan ikan di Indonesia terdiri dari 636 Usaha Pengolahan Ikan (UPI) skala besar dan 36.000 UPI skala kecil atau rumah tangga dengan teknologi sederhana.
Salah satu industri pengolahan ikan yang cukup berkembang di Indonesia yaitu industri pengalengan ikan. Pada 2015 lalu, industri ini mencapai 41 perusahaan dengan jumlah penyerapan tenaga kerja sebanyak 46.500 orang dan nilai investasi sebesar Rp 1,91 triliun.
Kapasitas terpasang industri tersebut mencapai 630.000 ton dengan nilai produksi 315.000 ton. Sedangkan, nilai ekspor ikan dalam kaleng mencapai USD 26 juta dengan nilai impornya USD 1,6 juta.