14 Juli 2017•Update: 17 Juli 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Belanda dalam proyek pembersihan sungai-sungai di Indonesia. Pembersihan sungai ini merupakan komitmen untuk mencari solusi mengurangi volume sampah laut.
Asisten Deputi Pendayagunaan Iptek Maritim Nani Hendiarti, Kemenko Maritim Nani Hendriarti, mengatakan 80% sampah laut berasal dari darat dan mengalir melalui sungai sampai ke laut.
“Kami jalin kerjasama dengan Belanda untuk membersihkan sampah di sungai-sungai Jakarta. Belanda terkenal dengan kebersihan sungai dan kanal-kanalnya,” ujarnya.
Uji coba pembersihan ini akan dilakukan di Sungai Angke pada Agustus mendatang. Setelah itu, baru kerjasama ini akan ditandatangani oleh kedua negara. Kerjasama ini, menurut Nani adalah implementasi MoU tentang Perubahan Iklim. Dalam kerjasa sama ini, Pemerintah Belanda melalui Ocean Clean Up akan menggunakan sebuah alat untuk membersihkan sampah di sungai.
“Ocean clean up memiliki teknologi untuk menangkap sampah di sungai dengan memperhatikan arah arusnya,” ujar dia.
Teknologi ocean clean up dapat mendorong inovasi pengembangan alat untuk mengurangi sampah laut, salah satu upaya yang dilakukan adalah mencegah agar sampah yang berada di sungai tidak mengalir ke laut. Namun penerapannya di Indonesia memerlukan beberapa penyesuaian karena perbedaan karakter sampah dengan Belanda.
Indonesia memang menghadapi persoalan sampah laut yang cukup akut. Pemerintah mengakui, setiap tahun ada sekitar 9 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut di Indonesia. Hal itu membuat negara ini menjadi penyumbang sampah terbanyak kedua di dunia.
Pemerintah mempunyai target ambisius untuk mengurangi volume sampah laut, yaitu hingga akhir 2025 bisa mengurangi hingga 70% sampah yang ada. Untuk mendukung target ini, pemerintah menyiapkan dana sebesar USD 1 miliar tiap tahun.