Dunia, Repertoar, Berita analisis

Virus korona mengganggu aktivitas warga China

Anadolu Agency mewawancarai orang-orang yang tinggal di berbagai kota di China dan berbicara tentang masalah paling umum yang mereka hadapi akibat virus korona

Umar Idrıs   | 11.02.2020
Virus korona mengganggu aktivitas warga China Pemandangan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei pada 7 Februari 2020. Jalanan terlihat sepi dan aktivitas warga berhenti. (Stringer - Anadolu Agency)

Ankara

Fahri Aksut

ANKARA

Sejak pertama kali terdeteksi di China pada 12 Desember, virus korona baru menyebar dengan cepat, mengancam kehidupan sehari-hari di China, salah satu negara dengan populasi paling padat di dunia.

Jenis baru virus korona, yang nama ilmiahnya adalah 2019-nCoV, pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China bagian tengah. Setelah itu, virus mematikan ini dengan cepat menyebar ke kota-kota lain di China.

Menurut Komisi Kesehatan Nasional negara itu, per Senin, setidaknya 1.011 orang telah meninggal karena wabah virus corona baru sejak virus itu ditemukan di Wuhan.

Komisi itu juga mengatakan ada lebih dari 40.000 kasus yang telah dikonfirmasi, dan hampir 200.000 orang masih dalam pengawasan medis.

Terlepas dari pernyataan resmi pemerintah China, opini publik di seluruh dunia menunjukkan jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi karena otoritas Tiongkok mungkin menyembunyikan fakta sesungguhnya.

Menurut beberapa klaim, pada hari pertama bulan Februari, sistem pelacakan virus korona di situs resmi Tencent Holdings, salah satu perusahaan teknologi dan perangkat lunak terbesar di China, menunjukkan jumlah korban tewas sebanyak 24.589 orang.

Jumlah mereka yang terinfeksi setidaknya mencapai 154.023, menurut situs web tersebut.

Tetapi perusahaan menghapus angka-angka tersebut tidak lama setelah menerbitkannya, dan menyatakan mereka salah menuliskan data.

Meskipun jumlah orang yang meninggal atau sakit karena virus itu kontroversial, faktanya adalah virus tersebut sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari di Tiongkok.

Anadolu Agency mewawancarai warga China di berbagai kota di China tentang masalah paling umum yang mereka hadapi akibat virus ini.

Orang-orang yang diwawancarai, berbicara dengan syarat anonim karena masalah keamanan, mengatakan mereka tidak pergi ke luar tempat tinggal kecuali jika perlu, menghindari pergi ke tempat-tempat ramai, termasuk sekolah dan pekerjaan, dan menimbun makanan dan produk-produk kebersihan di tempat tinggalnya.

Selain itu, mereka mengatakan jutaan orang di banyak bagian negara itu telah kehilangan layanan transportasi publik karena keputusan pemerintah.

Seorang karyawan berusia 25 tahun di sebuah perusahaan pendidikan di ibukota Beijing mengatakan dia menyayangkan orang-orang tidak dapat kembali ke rutinitas kerja mereka, sehingga perusahaan dan karyawan kehilangan pendapatan.

"Beberapa produk tidak tersedia di pasaran karena orang-orang menimbun. Oleh karena itu, harga barang meningkat dengan cepat setiap hari," kata ahli.

Juga, seorang penasihat keuangan berusia 29 tahun yang tinggal di Beijing mengatakan kehidupan dan kebiasaan sehari-hari orang-orang di kota itu telah berubah.

"Terus-menerus mencuci tangan telah menjadi semacam obsesi bagi orang-orang di sini. Terlebih lagi, masker pelindung wajah telah menjadi bagian penting yang harus dipakai untuk aktifitas sehari-hari. Orang tidak pergi keluar tanpa masker," kata penasihat keuangan itu.

Penasihat keuangan itu menambahkan, beberapa perusahaan melarang sementara pekerja mereka menggunakan transportasi umum, dan sebagian besar pekerja kantoran lebih suka bekerja di rumah.

Seorang asisten eksekutif yang tinggal di kota Shenzhen di China tenggara mengatakan, orang-orang harus membeli alat pembersih udara bagi rumah mereka dan menghindari tempat-tempat ramai.

Seorang mahasiswa teknik komputer berusia 21 tahun yang tinggal di Shenzhen mengatakan meskipun ada beberapa masalah di kotanya, orang-orang di kota Wuhan lebih menderita karena kondisi yang ditimbulkan oleh virus ini.

Seorang siswa lain, berusia 25 tahun, yang melanjutkan pendidikan universitasnya di kota Changde, provinsi Hunan, mengatakan orang-orang saling menjauh satu sama lain, termasuk kerabat dan teman-teman mereka, agar tidak terinfeksi.

"Orang-orang bahkan tidak membuat pesta dan tidak pergi ke pertemuan keluarga," kata siswa itu.

Mahasiswa itu juga memperhatikan gejala-gejala akibat virus itu yang dapat memicu masalah jantung.

"Orang yang menderita karena virus tersebut memiliki gejala flu biasa seperti demam, kelelahan, dan batuk. Namun selain itu, beberapa masalah jantung juga terjadi," katanya.

Karena wabah virus korona, sejumlah besar maskapai penerbangan internasional telah menangguhkan penerbangan ke China.

Pemerintah China juga menghentikan sementara transportasi umum di 17 kota dengan total populasi yang terimbas kebijakan itu sebanyak 50 juta orang.

Virus ini juga telah menyebar ke lebih dari 20 negara termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Rusia, dan sejumlah negara Asia.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menyatakan wabah virus korona baru ini sebagai darurat kesehatan global.

*Muhammed Hasan Sami Ozturk berkontribusi dalam berita dari Ankara


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.