Dunia, Berita analisis

PROFIL - Raed Salah: Ikon Pembela Masjid Al-Aqsa

Pengadilan Israel pada Senin menghukum tokoh perlawanan Palestina Syekh Raed Salah dengan 28 bulan penjara

Rhany Chaırunıssa Rufınaldo   | 11.02.2020
PROFIL - Raed Salah: Ikon Pembela Masjid Al-Aqsa Raed Salah diarak oleh pendukungnya setelah pengadilan Israel menjatuhkan hukuman penjara selama 28 bulan di Haifa, pada 10 February 10, 2020. (Mostafa Alkharouf - Anadolu Agency(

Ankara

Ahmed Asmar

ANKARA

Pengadilan Israel pada Senin menjatuhkan hukuman 28 bulan penjara pada Sheikh Raed Salah, ikon pembela Masjid al-Aqsa.

Ini bukan upaya pertama Israel untuk membungkam upaya Raed Salah yang gagah dan berani dalam membela Masjid Al-Aqsa dari para pemukim Israel yang berusaha menduduki situs suci ketiga umat Muslim itu.

Ikon perlawanan Palestina yang juga dikenal sebagai "Sheikh Masjid Al-Aqsa" itu adalah salah satu tokoh Palestina paling menonjol yang memperoleh popularitas luas di dunia Muslim karena pembelaannya yang tiada henti terhadap masjid tersebut.

Dia juga berusaha keras meningkatkan kesadaran tentang tindakan Israel terhadap Yerusalem secara umum dan jamaah di sana pada khususnya.

Lahir pada 1958, Sheikh Salah merupakan seorang penyair dan ayah dari delapan anak.

Dia memulai pekerjaan publiknya sebagai Wali Kota Umm al-Fahm, sebuah kota Arab di Israel, di mana dia juga menjadi pemimpin cabang utara Gerakan Islam di Israel.

Ketika kegiatannya berkembang dan pidato anti-pendudukannya disebarkan secara luas di kalangan minoritas Palestina di Israel, dia beberapa kali menjadi sasaran penangkapan oleh otoritas Israel.

Pada 2003, Sheikh Salah ditangkap karena dicurigai mendanai Hamas dan pada 2005, dia dilarang bepergian.

Kemudian pada 2010, dia dijatuhi hukuman lima bulan penjara atas tuduhan menyerang polisi Israel.

Sebagai seorang pembela rakyat Palestina yang kuat, Sheikh Salah telah melayangkan sejumlah protes terhadap kebijakan Israel dan berkampanye menentang perluasan permukiman Israel di wilayah-wilayah pendudukan.

Membela Yerusalem

Di bawah slogannya yang terkenal "Al-Aqsa dalam bahaya", dia menarik perhatian warga Palestina dan dunia Muslim tentang meningkatnya pelanggaran Israel terhadap kesucian tempat suci.

Sheikh Salah juga membalas narasi palsu Israel dengan menerbitkan fakta tentang kota suci dan apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Dia telah menjadi bagian dari upaya untuk mengekspos prosedur Israel terhadap situs-situs penting Kristen dan Muslim, terutama terowongan dan pekerjaan penggalian Israel di bawah Masjid Al-Aqsa.

Pada musim panas 2017, Sheikh Salah juga menyerukan untuk membela Masjid Al-Aqsa dari otoritas Israel yang memasang kamera dan gerbang elektronik di depan masjid.

Dia ditangkap di rumahnya di Kota Umm al-Fahm di Israel pada Agustus 2017, sebelum dihukum dengan tuduhan menghasut kekerasan.

Pada Februari 2018, Pengadilan Pusat Israel menghukum tokoh perlawanan Palestina itu dengan kurungan isolasi selama enam bulan.

Tepat setahun setelahnya, Mahkamah Agung Israel memvonis Sheikh Salah dengan tambahan hukuman tiga bulan tahanan rumah.

Di bawah ancaman Israel

Dia juga sering menjadi sasaran hasutan dan ancaman para pejabat Israel.

Menteri Keamanan Publik Israel Gilad Erdan pernah mengatakan bahwa hukuman Sheikh Salah menggambarkan bahwa pendukung teror dan hasutan berada di penjara untuk waktu yang lama dan bukan di Knesset [parlemen Israel].

Setelah penangkapannya pada 2017, Menteri Pendidikan Israel Rafi Peretz menyuarakan dukungannya untuk pengadilan pendudukan Israel.

"Saya harap vonis dalam kasusnya selama dan separah mungkin," ujar Peretz.

Berbicara selama sesi kabinet pada 2017, sejumlah menteri menuntut agar Salah ditempatkan di bawah penahanan administratif. Katz juga meminta otoritas Israel untuk mendeportasinya ke Lebanon atau Gaza.

Pada 2010, dia ikut menumpangi kapal Mavi Marmara dalam operasi Freedom Flotilla, yang bertujuan untuk menghancurkan pengepungan Israel di Jalur Gaza.

Seorang jurnalis asing mengungkapkan dalam sebuah artikel bahwa bagian dari rencana Israel dalam menyerang Mavi Marmara adalah untuk membunuh Sheikh Salah.

Meskipun terus dijegal oleh Israel, Sheikh Salah mengatakan dalam kesempatan yang berbeda bahwa dia bertekad untuk melanjutkan pembelaan terhadap Masjid Al-Aqsa, tak peduli berapa pun biaya yang harus dibayarnya.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.