Maria Elisa Hospita
19 Oktober 2018•Update: 21 Oktober 2018
Tallha Abdulrazaq
- Opini ditulis oleh peneliti di University of Exeter's Strategy and Security Institute dan pemenang Al Jazeera Young Researcher Award 2015. Penelitiannya mencakup isu keamanan Timur Tengah dan kontraterorisme.
ISTANBUL
Selama beberapa pekan terakhir, headline media Timur Tengah beralih dramatis dari topik Suriah, Irak, dan Palestina, menjadi isu pembunuhan jurnalis asal Arab Saudi sekaligus kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi.
Dia diperkirakan tewas dibunuh setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober namun tidak pernah terlihat keluar dari tempat tersebut. Berbagai spekulasi pun bermunculan terkait dugaan pembunuhan Khashoggi.
Siapa Khashoggi?
Yang menjadi perhatian saya adalah luapan kemarahan yang ditujukan pada Saudi menyusul hilangnya Khashoggi. Amarah itu sangat wajar mengingat jurnalis Saudi tersebut dikabarkan telah diinterogasi secara brutal oleh 15 orang yang dikirim dari Riyadh, sebelum disiksa sampai mati selama tujuh menit. Bahkan, menurut laporan media, jenazah Khashoggi pun dipotong-potong.
Jamal Khashoggi bukanlah jurnalis konvensional. Dia menjalin hubungan baik dengan pemerintah Saudi sejak invasi Soviet ke Afghanistan, di mana dia bekerja di dinas intelijen Saudi, saat Riyadh dan Washington mendukung perlawanan melawan Uni Soviet.
Dia bekerja sebagai jurnalis dan melakukan perjalanan ke Afghanistan, Timur Tengah, dan Afrika Utara, kemungkinan untuk melaporkan apa yang dia ketahui kepada para intel.
Hubungan Khashoggi dengan keluarga kerajaan Saudi juga bukan rahasia lagi, karena dia adalah penasihat Pangeran Turki Al Faisal, yang merupakan duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat serta kepala dinas intelijen Kerajaan Saudi selama 24 tahun antara 1977 - 2001. Khashoggi bahkan sangat mendukung banyak kebijakan negaranya, meskipun dia menunjukkan sikap bertentangan dengan Riyadh baru-baru ini, yakni setelah Putra Mahkota Mohammad bin Salman (MBS) naik tampuk kekuasaan.
Hubungan AS-Saudi cenderung tetap stabil
Meskipun Khashoggi bukan warga negara AS, dia adalah penduduk tetap di sana dan bekerja untuk surat kabar terkemuka, Washington Post. Oleh karena itu, kabar hilangnya Khashoggi pun menimbulkan keributan di negara sekutu dan pendukung Arab Saudi itu.
Presiden AS Donald Trump memang mengancam akan mengganjar "hukuman berat" jika ternyata Arab Saudi terbukti memerintahkan pembunuhan pada kolumnis tersebut, namun dia tak akan berhenti menjual senjata ke Saudi - yang saat ini terlibat dalam intervensi militer di Yaman melawan militan Syiah Houthi yang didukung Iran.
Trump bahkan memanfaatkan krisis itu sebagai kesempatan untuk menekan Riyadh. Beberapa hari setelah Khashoggi menghilang, dia mengatakan bahwa meskipun dia menyukai Raja Salman bin Abdulaziz, kerajaan Saudi "tidak akan bertahan lama" tanpa dukungan AS. Dengan demikian, Trump mengatakan bahwa sudah seharusnya Riyadh membayar lebih untuk perlindungan Amerika. Tak beberapa lama setelah Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mendarat di ibu kota Saudi, USD100 juta pun melayang ke kantong Washington.
Pemerintahan AS akan terus melindungi kerajaan Saudi, semata-mata karena kekayaan Riyadh. Meskipun Senator Lindsey Graham, yang biasanya merupakan pendukung setia Arab Saudi, telah menyerukan MBS untuk digulingkan karena dirinya adalah "bola perusak". Trump terang-terangan membela pemerintah Saudi, dengan mengatakan bahwa mereka akan dianggap tak bersalah sampai benar-benar terbukti bersalah.
Bisa dikatakan Trump ada benarnya. Hingga saat ini, media terus-menerus mengangkat kasus Khashoggi, terutama karena tokoh antagonis dalam kasus ini adalah Arab Saudi. Memang hilangnya Khashoggi dari konsulat Saudi mencurigakan. Namun, tidak ada orang yang tahu tentang apa yang terjadi pada kolumnis Saudi itu, apalagi sebagian besar informasi berasal dari sumber anonim. Yang terpenting saat ini adalah pihak berwenang harus memberikan penjelasan yang faktual kepada media, agar semua spekulasi yang ada tidak memperburuk situasi.
Tekanan yang ditimbulkan dari laporan-laporan media mendorong otoritas Saudi untuk mengakui kematian Khashoggi disebabkan oleh pihak-pihak "pembelot" yang tidak sengaja membunuh jurnalis itu. Namun berkat dukungan Trump, bangsawan Saudi kemungkinan bisa mangkir dari hukuman berat. Bagaimanapun, tragedi yang sebenarnya ialah bahwa kita mungkin tak akan pernah tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Jamal Khashoggi. Mungkin juga kita tidak akan pernah mendapatkan simpulan akhir dari kasus ini.
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Anadolu Agency