Berita analisis

AUKUS: Konsolidasi aliansi AS di Indo-Pacific lawan hegemoni China

Indonesia dapat berperan signifikan dalam menghentikan persaingan antara AS dengan China yang berdampak langsung terhadap kawasan, kata pengamat hubungan internasional

Pizaro Gozali Idrus, Devina Halim, Erric Permana   | 21.09.2021
AUKUS: Konsolidasi aliansi AS di Indo-Pacific lawan hegemoni China Aktivis Filipina bergabung dalam protes menuntut China untuk menghentikan klaim dan reklamasi besar-besaran di Laut China Selatan, di depan konsulat China di Manila, Filipina pada 4 Juni 2015. ( John Jerome E. Ganzon - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Para ahli hubungan internasional mengatakan pakta pertahanan AUKUS yang dibentuk Amerika Serikat, Inggris, dan Australia 15 September lalu, bertujuan menandingi hegemoni China di Laut China Selatan.

Namun di sisi lain negara-negara ASEAN menilai aliansi ini dapat memicu konflik kawasan.

Ahli keamanan internasional Universitas Al Azhar Indonesia Rizal Hidayat mengatakan anggota aliansi, yaitu Australia dan Inggris adalah anggota Five Power Defence Arrangements (FPDA), sedangkan Amerika Serikat adalah sekutu utama dua negara tersebut.

Rizal melihat aliansi ini sengaja dibentuk sebagai konsolidasi kekuatan aliansi AS untuk menandingi China yang sedang hegemonik di kawasan Indo-Pacific.

“FPDA memiliki prinsip untuk saling melindungi. Jika anggotanya diserang mereka harus saling melindungi. Apalagi China di Asia Tenggara assertif,” ujar dia pada Anadolu Agency, Selasa.

FPDA adalah aliansi pertahanan yang dibentuk Australia, Inggris, Selandia Baru, Singapura, dan Malaysia.

Sejak ditanda tangani pada 1971, kelima negara FPDA memiliki perjanjian untuk saling membantu jika terjadi serangan dari luar.

Selain itu, kata Rizal, meskipun Inggris tidak terlihat agresif di kawasan, tapi negara itu tetap stand by force jika menyangkut kepentingan Amerika Serikat dan Australia di Laut China Selatan.

Sementara itu, marinir AS juga sudah stand by force di Darwin, Australia utara jika suatu ketika dibutuhkan di sekitar Laut China Selatan.

“Jadi saya melihat AUKUS sebagai penguatan agenda politik keamanan ketiga negara,” kata dia.

Juli lalu, China mengklaim telah mengusir kapal perusak milik Amerika Serikat (AS) di dekat Kepulauan Paracel, Laut China Selatan.

Beijing menyebut kapal perusak USS Benfold tersebut memasuki perairan Kepulauan Paracel tanpa persetujuan pemerintah China.

Rizal mengatakan China memang memiliki pengaruh besar di ASEAN karena negara itu lebih mengedepankan hubungan bilateral.

Sedangkan AS lebih menekankan multilateral diplomacy.

“China pendekatannya soft power. Tapi di balik soft power itu, China akan menawarkan kerja sama simbiosis mutualisme antarnegara,” jelas dia.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana menduga AS membangun pakta tersebut untuk berbagi beban (burden sharing) dalam menghadapi kekuatan China.

Menurut dia, kemampuan AS saat ini berbeda dengan ketika dulu berhadapan dengan Uni Soviet.

Amerika kini, kata Hikmahanto tidak mampu menghadapi China sendirian.

“Kalau dulu AS punya kekuatan ekonomi, bisa kasih utang dan alutsista mereka canggih," ujar Hikmahanto kepada Anadolu Agency.

"Sekarang alutsista canggih tapi tidak (memiliki) kekuatan ekonomi,” lanjut dia.

Negara-negara ASEAN telah menjadi blok perdagangan nomor satu dengan China pada 2020.

Volume perdagangan mencapai 4,74 triliun yuan atau USD731,9 miliar, tumbuh 7 persen year-on-year, menurut data Bea Cukai China.

AS dan China baru-baru ini juga bersaing dalam memberikan pengaruh ke kawasan, Agustus lalu Wakil Presiden Kamala Harris menggelar tur ASEAN dan menekankan Indo-Pacific menjadi top prioritas diplomasi negeri Paman Sam saat ini.

Dua pekan berselang, Menlu China Wang Yi mengunjungi Vietnam, Kamboja, Singapura, dan Korea Selatan untuk memperkuat kerja sama dan membahas masalah regional.

ASEAN anggap AUKUS picu konflik

Meski Malaysia juga bagian FPDA, negara itu menolak pembentukan pakta pertahanan AUKUS yang berencana mempersenjatai Australia dengan kapal selam nuklir.

Dalam percakapan telepon dengan Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton kepada Peter Dutton pada Senin, Menteri Pertahanan Malaysia Hishamuddin Hussein menekankan bahwa pembentukan AUKUS berpotensi mengganggu perdamaian dan stabilitas di kawasan, terutama di Laut Cina Selatan.

“Meskipun Australia telah membedakan antara senjata nuklir dan aset militer bertenaga nuklir, sikap Malaysia tetap konsisten – semua pihak harus menahan diri untuk tidak menggunakan aksi militer yang dianggap provokatif, serta berpotensi meningkatkan ketegangan dan memicu konflik di kawasan,” kata Hussein dalam pernyataannya.

Di akhir pembicaraan, Hussein menyuarakan komitmen Malaysia terhadap hubungan pertahanan bilateral dengan Australia, termasuk melalui FPDA.

Pada 1995, ASEAN menetapkan perjanjian kawasan bebas senjata nuklir atau Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone untuk menjamin perdamaian dan stabilitas di Asia Tenggara.

Sementara itu, Indonesia memprediksi pakta pertahanan antara Australia, Amerika Serikat dan Inggris (AUKUS) akan semakin meningkatkan dinamika di Laut China Selatan.

Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Indonesia Laksamana Madya TNI Aan Kurnia, dampak langsung di sektor pertahanan adanya AUKUS tersebut menyebabkan kehadiran kekuatan militer besar di perairan Laut China Selatan meningkat.

Selain itu juga, pakta pertahanan tersebut dinilai bisa menyebabkan gangguan dan terjadinya peningkatan risiko konflik dalam lalu lintas pelayaran.

“Sehingga kalau larinya ekonomi keamanan, asuransi akan meningkat, biaya logistik meningkat sehingga menciptakan krisis energi dan ekonomi, itu dampak keamanannya,” jelas Aan saat Rapat Dengar Pendapat dengan DPR pada Senin.

Kontestasi di laut juga akan mendorong negara yang terlibat untuk meningkatkan kemampuan perangnya sehingga berpotensi terjadinya risiko pecah perang, jelas dia.

Indonesia dapat hentikan persaingan AS-China

Hikmahanto menilai Indonesia dapat berperan signifikan dalam menghentikan persaingan antara AS dengan China yang berdampak langsung terhadap kawasan.

Hal yang dapat dilakukan Indonesia dengan meminta ASEAN mengadakan sidang khusus dalam rangka menentang rencana Australia.

Kemudian, Hikmahanto mengusulkan Indonesia mendekati China sebagai pesaing AS untuk menolak rencana Australia.

“Harapannya adalah AS akan khawatir bila Indonesia akan bersekutu dengan China dan karenanya akan menghentikan rencana Australia membangun kapal selam bertenaga nuklir,” ujar Hikmahanto.

Indonesia, kata dia, juga bisa mendorong Prancis agar membawa isu ini dalam sidang Dewan Keamanan PBB.

Sebelumnya, pada 15 September, Australia, Inggris dan Amerika Serikat mengumumkan kerja sama pertahanan trilateral.

Salah satu isinya, armada Australia akan dilengkapi dengan armada kapal selam bertenaga nuklir canggih.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.