Fatma Zehra Solmaz
02 Juni 2026•Update: 02 Juni 2026
Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan mengatakan negaranya menghadapi berbagai upaya untuk membentuk ulang kawasan melalui pertumpahan darah, sembari terus memperkuat industri pertahanannya.
Berbicara seusai rapat Kabinet di ibu kota Ankara pada Senin, Erdogan mengatakan terdapat upaya untuk membentuk perkembangan kawasan melalui “pertumpahan darah dan air mata” di Gaza, Lebanon, Sudan, dan Yaman. Ia menegaskan Turkiye berupaya menggagalkan “permainan” tersebut sekaligus memperkuat berbagai capaian yang telah diraih negara itu selama 23 tahun terakhir.
Erdogan mengatakan Turkiye juga “mencetak sejarah” dalam industri pertahanan dan tetap berfokus pada tujuan jangka panjangnya di tengah periode yang ia sebut sebagai perubahan besar di tingkat regional dan global.
“Ada Turkiye yang berdiri sebagai pulau stabilitas di tengah ketegangan kawasan,” kata Erdogan. Ia menambahkan bahwa “sebagai pemerintah dan aliansi, kami menyadari bahwa kami memikul tanggung jawab historis pada masa transformasi historis. Kami tidak punya waktu untuk terlibat dalam pertengkaran atau polemik.”
Menyinggung peringatan 573 tahun Penaklukan Istanbul oleh Sultan Utsmaniyah Mehmed II, yang dikenal sebagai Fatih Sultan Mehmet, Erdogan mengatakan bangsa Turkiye memperingati peristiwa bersejarah itu dengan penuh kebanggaan, merayakan semangatnya bersama ribuan warga yang berkumpul pekan lalu.
Ia juga mengatakan Istanbul akan tetap menjadi kota Turkiye dan Muslim meskipun ada pihak yang ia sebut sebagai “sisa-sisa Bizantium” yang menentangnya.
Erdogan mengatakan Hagia Sophia, dengan kumandang azan dari menara-menaranya, telah lama berdiri sebagai simbol penaklukan, seraya menyebut bangunan itu sempat berada dalam keadaan berduka selama bertahun-tahun.
Ia lebih lanjut menyatakan bahwa setelah 86 tahun, Turkiye “mematahkan rantai” yang dipasang pada Hagia Sophia dan mengembalikannya ke tempatnya dalam peradaban. Kini, bangunan itu kembali berdiri sebagai simbol penaklukan, dengan lantunan ayat Al-Quran yang bergema di bawah kubahnya dan azan yang berkumandang dari menara-menaranya.
Erdogan menekankan persatuan nasional dan mengatakan Turkiye akan terus berdiri bersama, tumbuh semakin kuat, serta melangkah maju sebagai satu bangsa.