ANKARA
Lebih dari sepertiga negara dunia menghadiri Forum Diplomasi Antalya, kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Jumat.
Acara tersebut telah mengumpulkan peserta dari 75 negara, termasuk 17 kepala negara, 80 menteri, dan 39 perwakilan organisasi internasional, kata Cavusoglu dalam pidato pembukaannya.
Forum Diplomasi Antalya, yang diselenggarakan dengan tema “Pengodean Ulang Diplomasi”, akan menjawab tantangan global tahun-tahun mendatang, tutur dia.
"Di tahun-tahun mendatang, kita harus mengatasi risiko runtuhnya sistem pasca-kolonial di seluruh dunia. Ini akan menjadi malapetaka karena institusi dan mekanisme yang ada sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan kita," kata Cavusoglu.
“Misalnya, meletusnya konflik tidak bisa dicegah. Dan yang sedang berlangsung tidak bisa diselesaikan,” tambah dia.
Dengan semakin mendalamnya ketidaksetaraan global, ada kebutuhan untuk menyelesaikan ketegangan yang muncul, mengelola perubahan, memfasilitasi adaptasi, dan mempromosikan kerja sama, kata menteri luar negeri Turki.
Juga dibutuhkan “bahasa baru dan pemahaman baru melalui kemampuan digital. Kita perlu menyebarkan pesan dengan cara yang paling meyakinkan sambil berjuang melawan disinformasi,” imbuh dia.
“Tetapi yang paling penting, kita perlu menempatkan diplomasi demi perdamaian dan pembangunan,” ujar menlu Turki.
Penyelesaian damai lewat diplomasi
Dalam pesan video yang dikirim untuk upacara pembukaan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, "Hanya ada satu jalan ke depan: dialog dan diplomasi."
"Diplomasi adalah inti dari semangat piagam PBB," tambah dia.
Perancang piagam menyaksikan "kerusakan yang tak terkatakan" yang disebabkan oleh Perang Dunia II, menurut Guterres.
"Untuk mencegah hal itu terjadi lagi, mereka telah membangun sistem keamanan kolektif berdasarkan gagasan mendasar bahwa diplomasi harus selalu didahulukan," tambah dia.
Berbicara tentang tema acara, Guterres mengatakan pengkodean ulang diplomasi berarti "melihat ke belakang".
“Pengkodean ulang diplomasi juga berarti melihat ke depan dan mengakui bahwa diplomasi adalah proses yang hidup,” tambah dia.
"Dalam masa-masa yang penuh tantangan ini, rekaman diplomasi berarti pencarian tanpa henti dan tanpa lelah untuk solusi damai," tukas Guterres.