Muhammad Abdullah Azzam
13 Oktober 2020•Update: 13 Oktober 2020
Sefa Mutlu
ISTANBUL
Presiden Turki dan kepala Dewan Eropa dalam percakapan via telepon pada Senin membicarakan tentang hubungan Turki-Uni Eropa, perkembangan di Mediterania Timur, dan masalah regional, kata sebuah pernyataan resmi.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mendesak Uni Eropa (UE) untuk mengambil "sikap yang konsisten" soal integritas teritorial Azerbaijan, menurut pernyataan Direktorat Komunikasi Turki.
Erdogan mengatakan bahwa Armenia telah membahayakan pasokan energi Eropa dengan menyerang kota Ganja di wilayah Azerbaijan dan wilayah Tovuz, di mana jaringan pipa gas alam dan minyak serta jalur transportasi beroperasi.
Erdogan mendesak Charles Michel untuk bekerja sama dalam merevitalisasi hubungan Turki-UE, memenuhi kewajiban UE berdasarkan perjanjian migran 2016, dan membuat kemajuan dalam memperbarui Serikat Pabean dan liberalisasi visa.
Erdogan menambahkan bahwa Ankara mengharapkan langkah konkret dari UE untuk menyelenggarakan konferensi Mediterania Timur yang diusulkannya.
Hubungan antara dua bekas republik Soviet telah tegang sejak 1991 ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Bentrokan itu meletus pada 27 September, dan sejak itu Armenia melanjutkan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan.
OSCE Minsk Group - diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan AS - dibentuk pada tahun 1992 untuk menemukan solusi damai untuk konflik tersebut, tetapi tidak berhasil. Gencatan senjata disepakati pada tahun 1994.
Banyak kekuatan dunia, termasuk Rusia, Prancis, dan AS, mendesak gencatan senjata baru.
Turki mendukung hak Baku untuk membela diri dan menuntut penarikan pasukan pendudukan Armenia.