Pizaro Gozali İdrus
29 Mei 2019•Update: 29 Mei 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Otoritas keamanan Thailand memburu pelaku ledakan bom di dekat pasar di distrik Nong Chik Patani yang menewaskan dua orang dan melukai 22 lainnya, lansir Bangkok Post pada Rabu.
Pejabat Keamanan Thailand khawatir serangan serupa akan terjadi jika pelaku tak segera ditangkap.
Thailand menduga pemboman Senin lalu diyakini sebagai aksi "pembalasan" atas kematian seorang tersangka pemberontak, yang tewas dalam bentrokan enam jam antara pemberontak dan pasukan keamanan yang berakhir dengan baku tembak di Yala.
Aidilfitli Yako yang berusia empat belas tahun dan Saripah Yosae, 35, tewas ketika bom meledak.
Dua puluh dua orang lainnya terluka, termasuk empat polisi militer.
Baku tembak sebelumnya meletus setelah pasukan keamanan gabungan menutup area di tambon Katong distrik Yala.
Satu pemberontak tewas, sementara tiga petugas keamanan terluka dalam serangan itu.
Setelah kejadian itu, 18 warga setempat ditahan untuk diinterogasi, sementara petugas lainnya memburu lima tersangka yang melarikan diri selama baku tembak, kata sumber keamanan.
Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha pada Selasa menyatakan belasungkawa kepada para kerabat korban.
Sejak 2004, konflik bersenjata di empat provinsi di selatan Thailand telah menewaskan 7.000 jiwa.
Pada 2013, Thailand pertama kalinya menandatangani perundingan damai bersama Barisan Revolusi Nasional (BRN) Melayu Patani, salah satu gerakan pembebasan kemerdekaan Patani, yang diwakili Hasan Thoiyib.
Perundingan pada waktu itu ditengahi pemerintah perdana menteri Malaysia Najib Abdul Razak.
Namun, perundingan antara BRN dan Pemerintah Thailand berhenti pada 2014 karena kekacauan kudeta militer yang dipimpin Prayuth Chan-ocha terhadap pemerintahan Yingluck Shinawatra.
Prayut Chan-ocha kembali memperbarui proses perundingan yang hampir melahirkan zona aman antara kedua pihak.