Rhany Chairunissa Rufinaldo
03 April 2019•Update: 04 April 2019
Rhany Chairunissa Rufinaldo
JAKARTA
Raja Thailand menyatakan keprihatinan atas kabut asap di wilayah utara negara itu dan menyarankan agar sukarelawan yang terdaftar di bawah proyek "Jit-Arsa" untuk membantu mengatasi masalah tersebut, lansir Bangkok Post pada Selasa.
Kekhawatiran Raja Vajiralongkorn disampaikan oleh Kementerian Sumber Daya Alam dan Lingkungan.
Sebelumnya pada Minggu, Komandan Pasukan Jit-Arsa 904 Jenderal Siva Paramoratat dan Inspektur Khusus di Kantor PM dan koordinator proyek Jit-Arsa Theerapat Prayurasidhi menghadiri pertemuan dengan Kementerian itu untuk membahas cara-cara meredakan kabut asap di provinsi-provinsi utara.
"Raja mengatakan masalah telah meningkat dan sekarang berada di luar kekuasaan pemerintah provinsi untuk menanganinya," kata Sophon Thongdee, juru bicara kementerian.
"Pemerintah harus mengambil tindakan, termasuk atas nama semua sukarelawan sehingga mereka dapat bergandengan tangan untuk menangani masalah ini," tambah Thongdee.
Menurut harian lokal, polusi udara di wilayah utara mencapai tingkat kritis bulan lalu, sebagian besar karena kebakaran hutan skala besar dan pembakaran terbuka - baik secara lokal maupun dari Laos dan Myanmar.
Tingkat partikel debu mikroskopis PM2.5 - debu tak terlihat yang dapat berada jauh di dalam paru-paru dan kemungkinan menyebabkan migrain dan penyakit kardiovaskular - di kota-kota seperti Chiang Mai, Chiang Rai dan Mae Hong Son melonjak hingga 300-500 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Namun, situasi membaik pada Senin, di mana level tertinggi PM2.5 diukur pada 216 µg/m³ di distrik Muang Mae Hong Son.
Meskipun begitu, tingkat partikel debu telah jauh melebihi tingkat keamanan Thailand, yaitu 50 μg/m³, sementara standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 25 μg/m³.