Hayati Nupus
21 November 2019•Update: 21 November 2019
JAKARTA
Orang Malaysia melintasi selat untuk bekerja dengan keterampilan rendah di Singapura demi upah yang lebih besar.
Sementara di negaranya, mereka mengandalkan tenaga kerja asing untuk melakukan pekerjaan serupa.
Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia M. Kulasegaran mengatakan di Singapura, mereka memperoleh upah lima kali lipat ketimbang di negara mereka sendiri.
“Itulah yang membuat mereka bersedia melakukan pekerjaan kotor, berbahaya dan sulit,” kata dia, seperti dikutip The Star.
Tren ini membuat perusahaan perkebunan dan produsen Malaysia mencari pekerjaan dari luar negeri.
Menteri Keuangan Malaysia Lim Guan Eng menyebut ini sebagai “kecanduan terhadap pekerja asing berketerampilan rendah.”
Master Builders Association Malaysia mencatat industri konstruksi baru sanggup mempekerjakan sepertiga dari 1,2 juta pekerja yang dibutuhkan.
Malaysia telah berupaya memberikan insentif upah bulanan sebesar RM500 kepada pekerja lokal yang bekerja di dalam negeri dan RM250 kepada majikan.
Tujuannya untuk mengurangi jumlah pekerja asing dengan target 130.000 selama lima tahun.
Asosiasi pembangun pesimistis langkah ini dapat menyelesaikan masalah perburuhan.
“Langkah itu tak akan terlalu efektif mengurangi jumlah pekerja asing, banyak dari mereka dipekerjakan dengan pekerjaan yang tak ingin dilakukan oleh orang Malaysia, mereka tak ingin bersaing atau berpartisipasi,” kata Master Builders Association Malaysia.