JAKARTA
Militer Filipina sedang mengkaji pemberlakuan undang-undang darurat militer di Sulu seusai dua ledakan di Kota Jolo yang menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 72 lainnya.
Komandan Angkatan Darat Filipina (PA) Letnan Jenderal Cirilito Sobejana mengatakan situasi ini memerlukan tindakan tegas karena ledakan menyebabkan banyak korban di antara pasukan keamanan dan warga sipil.
"Saya pikir bijaksana (bagi pemerintah untuk) mengumumkan (Darurat Militer) lagi," ujar Sobejana dalam wawancaranya kepada wartawan, kutip Philippines News Agency.
Sobejana mengklaim penerapan darurat militer di Sulu ini dapat membuat keadaan kembali normal dan mengendalikan pergerakan kelompok teror.
"Kalau tidak, (penyerangan) akan terjadi lagi dan mengorbankan penduduk setempat," kata Sobejana.
Ketika ditanya berapa lama darurat militer akan ditetapkan, Sobejana mengatakan hal itu tergantung situasi di lapangan.
Namun demikian, Sobejana mengatakan keputusan ini menjadi wewenang Presiden Rodrigo Duterte dan Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana.
Sobejana mengatakan dua wanita pelaku bom bunuh diri kemungkinan besar dimotivasi pemimpin Abu Sayyaf Mundi Sawadjaan.
Motif lainnya adalah para pelaku pengeboman merupakan janda dari teroris yang sebelumnya dilumpuhkan pasukan pemerintah.
Setidaknya 14 tewas, termasuk tentara, dan puluhan lainnya terluka dalam dua ledakan terpisah yang mengguncang pusat Kota Jolo, Sulu, sebelah selatan Filipina, Senin.
Peristiwa ini adalah ledakan terbesar di Jolo sejak Januari 2019, ketika bom kembar mengguncang gereja sebelum kebaktian Minggu berlangsung.
Ledakan itu menewaskan lebih dari 20 orang dan mengakibatkan sekitar 100 orang terluka.
news_share_descriptionsubscription_contact
